Cara Mudah Bikin Kompos, si `Emas Hitam`

Posted by Pupuk Kompos Abdi Alam Selasa, 20 Januari 2015 1 komentar
kompos-sampah-140128b.jpg 
Untuk mengurangi timbunan sampah dan menciptakan lingkungan bersih, Anda bisa mulai memanfaatkan sampah dan menjadikannya kompos. Menurut Tutor Mobil Hijau Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu (SIKIB),  Fidryaningsih Fiona kompos adalah emas hitam.

"Kompos itu bisa dibuat dari sampah, tidak sulit kok. Kompos itu emas hitam artinya sangat berharga banyak manfaatnya untuk lingkungan. Kalau lingkungan hijau, bersih dan sehat kan kita manusia ikut sehat juga," kata Fidry, ditulis Selasa (28/1/2014).

Kompos adalah pupuk organik yang bersumber dari sampah yang dibuat melalui proses pengonposan.

"Kompos itu dapat menyuburkan tanah, menambah kemampuan dalam menyerap air dan membantu pertumbuhan tanaman. Selain utu dapat dibuat dan dijuak sehingga menambah penghasilan," kata Fidry.

Membuat kompos yuk, Fidry pun membagi informasi cara sederhananya, "buat kompos itu tidak sulit kok," katanya.

Peralatan yang dibutuhkan :

1. Keranjang pengangkut
2. Garpu tanah untuj mengaduk sampah
3. Sekop untuk mengayak sampah dan tanah
4. Termometer alkohol untuk mengukur suhu
5. Terowongan udara yang dibuat dari bambu berguna untuk dasar tumpukab sampah dan saluran udara
6.  Ayakan atau saringan untuk menyaring kompos yang audah jadi agar dapat dipisahkan kompos halus dan kasar

Cara Membuat :

1. Pilih sampah yang akan dijadikan kompos

"Pilihlah sampah dari bahan organik seperti daun, kulit buah, sisa sayur mayur dan sebaiknya pilih sampah yang masih segar. Karena dengan sampah tersebut akan menjaga mutu kompos," ujar Fidry.

2. Timbun Sampah

Susun tumpukan sampah ke dalam terowongan udara dari bambu. Lalu siram dengan air secara merata. Nantinya sampah akan lapuk. Proses ini memakan waktu sampai tiga hari.

3. Pemantauan Suhu

Pengaturan suhu sangat penting karena suhu yang tinggi akan mematikan biji tanaman, membunuh bibit penyakit dan memperlunak bahan kompos. Suhu tetap harus terjaga normal yaitu 65 derajat.

4. Pelapukan Sampah

Perlu dilakukan pembalikan dan penyiraman air pada suhu tertentu, karena proses pelapukan tanah membutuhkan suhu yang pas berkisar 45 derajat celcius sampai 65 derajat celcius dan kelembaban sekitar 50 persen. Proses ini berlangsng selama 35 hatu, hingga berlangsung selama 35 hari sampai warnanya berubah menjadi cokelat tua dan kehitaman.

5. Proses Pematangan

Setelah pelapukan sampah dan kompos berubah warna serta berbentuk seperti tanah, maka perlu dilakukan pematangan yang dilakukan selama 14 hari dengan cara pembalikan sampah jika suhu masih di atas 45 derajat celsius. Apabila suhu tetap di bawah 45 derajat celsius maka kompos sudah disebut matang.

6. Memanen Kompos

Setelah matang maka dilakukan pemanenan. Dilanjutkan dengan memisahkan butiran halus dan kasar. Lalu kompos siap digunakan.

Ciri-citi kompos yang baik :

1. Berwarna cokelat tua hingga hitam mirip dengan warna tanah
2. Tidak larut dalam air
3. Berefek baik di tanah
4. Suhunya kurang lebih sama dengan suhu lingkungan dan tidak berbau.

Baca Selengkapnya ....

Pertanian Organik dan Pertanian Tidak Organik, Apa Bedanya?

Posted by Pupuk Kompos Abdi Alam 1 komentar
sehat-organik-140128b.jpg
 
Bahan makanan organik sedang populer di masyarakat kita. Tak heran banyak tanaman organik yang dijual di pasar atau supermarket. Sebenarnya, pertanian organik merupakan cara menanam tumbuhan tanpa menggunakan bahan kimia sehingga tidak merusak kesehatan manusia.

"Tujuannya untuk meningkatkan kesehatan masyarakat, lingkungan tidak tercemar, melestarikan keanekaragaman hayati, dan mengurangi erosi akibat pengolahan tanah. Organik itu lebih sehat dan sistem tanamnya berbeda dengan pertanian biasa," kata Tutor Mobil Hijau Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu (SIKIB), Fidryaningsih Fiona, ditulis Selasa (28/1/2014).

Begini perbedaan sistem penanaman organik dan biasa menurut Fidry yang juga lulusan pendidikan perkebunan dan kehutanan.

1. Persiapan benih

Benih organik berasal dari tanaman alami kalau pertanian biasa benihnya dari hasil persilangan atau rekayasa genetik.

2. Pengolahan Tanah

Karena memakai traktor mesin, tanah pada pertanian biasa menjadi padat dan akibatnya organisme tanah mati. Sedangkan pada pertanian organik pengolahan tanah diminimalkan dengan membiarkan organime tanah tetap hidup sehingga memperkecil risiko kerusakan tanah.

3. Persemaian atau Persiapan Bibit

Organik dibuat secara alami sementra pertanian biasa dilakukan dengan menyiapkan bibit dan pupuk dari bahan kimia sintetik.

4. Penanaman

Pada pertanian biasa, tanaman hanya sejenis dan tidak ada kombinasi, sementara para pertanian organik ada bermacam jenis tanaman dan ada kombinasi tanaman pendamping serta penataan tanaman.

5. Pengairan

Organik menggunakan air bersih bebas dari bahan kimia, pertanian biasa menggunakan sumber air dari mana saja.

6. Pemupukan

Pertanian biasa menggunakan pupuk kimia sedangkan organik menggunakan pupuk kandang.

7. Pengendalian Hama dan Penyakit

Pertanian biasa menggunakan pestisida dan zat kimia lainnya sedangkan organik menggunakan pertimbangan alam.

8. Panen

Hasil panen organik bersih dan sehat untuk dikonsumsi sementara hasil panen pertanian biasa biasanya sudah tercemar zat kimia. 

Sumber: http://health.liputan6.com/read/811626/pertanian-organik-dan-pertanian-tidak-organik-apa-bedanya

Baca Selengkapnya ....

[VIDEO] Berkat Pupuk Buatan Untung, Panen Petani Berlimpah

Posted by Pupuk Kompos Abdi Alam 0 komentar
Seorang petani Lampung mampu mengembangkan pupuk organik dengan bahan limbah pertanian di desanya. Berkat pupuk itu, hasil panen meningkat hampir 2 kali lipat. Inilah Untung Saparudin, salah satu kandidat Liputan6 Awards 2013.
Untung tinggal di Dusun Empat, Ulak Rengas, Kota Bumi, Lampung Utara. Dusun ini tak banyak berbeda dengan desa-desa lain di Tanah Air. Sebagian besar warga hidup dari hasil pertanian dan perkebunan. Kopi dan lada, adalah produk unggulan setempat. Sehingga bisa diduga, warga kawasan ini sangat bergantung pada pupuk.
Keluhan utama para petani adalah harga pupuk yang bisa melambung tinggi. Situasi ini memicu Untung mencari alternatif. Dilandasi pengalaman bertani, pria yang sekolah hingga kelas 2 sekolah dasar ini mencoba membuat pupuk.
Keterbatasan sekolah formal tak menjadi halangan bagi Untung. Sekitar 2001, dia bertekad menghasilkan pupuk dari limbah pertanian yang tersedia melimpah di sekitar. Akhirnya, Untung menemukan pupuk organik cair yang dia sebut sebagai mikro organisme lokal (mol). Pupuk mol terbukti punya berbagai kelebihan.

Harga Ringan Tanpa Efek Samping
Awalnya, pupuk karya Untung ini tidak langsung diterima masyarakat. Tapi bukti akhirnya berbicara. Semakin banyak petani berminat belajar cara membuat mol setelah terbukti hasil tanaman lebih subur tanpa ada efek samping.
Sekarang, Untung telah jadi tokoh inspiratif. Berbagai penghargaan telah diraih. Kini Untung dianggap mengharumkan nama daerah.
Karya Untung kini menarik perhatian para akademisi bidang pertanian. Banyak kalangan bertandang ke rumah Untung untuk menimba ilmu. Para petani setempat berharap karya Untung bisa terus dikembangkan.
Pria kelahiran Salatiga, Jawa Tengah, 58 tahun lalu ini, berharap pupuk karyanya bisa membantu sebanyak mungkin petani di seluruh pelosok Tanah Air.(Rmn/Ais)
  
 Sumber : http://news.liputan6.com/read/583518/video-berkat-pupuk-buatan-untung-panen-petani-berlimpah

Baca Selengkapnya ....

Desa Kulwaru dan Mahasiswa UGM Luncurkan Pupuk Kompos Organik

Posted by Pupuk Kompos Abdi Alam 0 komentar
Desa Kulwaru dan Mahasiswa UGM Luncurkan Pupuk Kompos OrganikCitizen6, Yogyakarta Masyarakat Desa Kulwaru Wetan, Kulon Progo meluncurkan produk pupuk kompos organik dengan memanfaatkan limbah kotoran ternak sapi. Bersama dengan mahasiswa Universitas Gadjah Mada yang tergabung dalam International Association of Students in Agricultural and Related Sciences, Local Committee Universitas Gadjah Mada (IAAS LC UGM), masyarakat desa Kulwaru bersemangat untuk merubah kotoran sapi menjadi sebuah produk yang bermanfaat.
Hal ini dikarenakan melimpahnya limbah kotoran sapi yang ada dapat dimanfaatkan dengan baik untuk mendukung kegiatan pertanian organik. Program menuju desa pertanian organik rupanya sudah digiatkan warga dengan mengintegrasikan semua kegiatan pertanian yang ada yaitu dengan memanfaatkan limbah tanaman untuk pakan ternak sapi dan sebaliknya limbah kotoran sapi yang dimanfaatkan untuk pembuatan pupuk kompos organik.
IAAS LC UGM yang didampingi praktisi pertanian yang merupakan alumni mahasiswa UGM, Trisnanto Rahardjo memberikan penyuluhan dan praktik pembuatan pupuk organik dengan memanfaatkan limbah kotoran ternak sapi. Selain limbah kotoran sapi, limbah urine sapi juga bisa dimanfaatkan menjadi pupuk organik cair, pada hari itu juga, IAAS LC UGM dan masyarakat Desa Kulwaru mempraktekkan langsung cara membuat pupuk cair organik dari urine sapi. Harga pupuk cair yang mahal menjadi latar belakang ide untuk membuat pupuk organik cair sendiri untuk dimanfaatkan dan bisa memenuhi kebutuhan para petani di Kulwaru bahkan rencana ke depannya IAAS LC UGM dan masyarakat Desa Kulwaru akan memprogramkan untuk pemasaran pupuk kompos organik dan pupuk organik cair tersebut ke pasaran.    

 

Pembuatan Pupuk Organik Cair Masyarakat Desa Kulwaru bersama IAAS LC UGM (12/4)

Kegiatan dimulai dengan mempraktekkan langsung pembuatan pupuk organik cair dengan mengkombinasikan urine sapi, lengkuas, kunyit, temu ireng, jahe, kencur, brotowali, tetes tebu dan bakteri Saccharomyces cerevisiae. Lalu di fermentasi selama dua minggu. Acara dilanjutkan dengan launching pupuk kompos organik secara simbolis yang telah dibuat sebelumnya oleh IAAS LC UGM dengan warga desa Kulwaru.

“Pembuatan pupuk organik kerja sama antara mahasiswa UGM dan masyarakat Desa Kulwaru membuktikan kerjasama dengan dunia pendidikan bisa diaplikasikan secara langsung di masyarakat dengan menciptakan produk pupuk organik yang berkualitas”, ungkap Imam Hudoyo, Kepala Desa Kulwaru.
Travelia Febrin, sebagai Local Committee Director IAAS LC UGM mengungkapkan “Semoga geliat penggunaan pupuk kompos organik maupun pupuk organik cair memberikan manfaat yang banyak bagi masyarakat terutama untuk menjadikan Desa Kulwaru sebagai desa percontohan pertanian organik di Daerah Istimewa Yogyakarta sehingga memberikan manfaat bagi masyarakat, bukan hanya saat ini saja, namun untuk jangka panjang”.

Penulis:
Hendy Dwi Warmiko (UGM)
Disclaimer:

Citizen6 adalah media publik untuk warga. Artikel di Citizen6 merupakan opini pribadi dan tidak boleh menyinggung SARA. Isi artikel menjadi tanggung jawab si penulisnya.

Anda juga bisa mengirimkan link postingan terbaru blog Anda atau artikel disertai foto seputar kegiatan komunitas, kesehatan, keuangan, wisata, kuliner, gaya hidup, sosial media, dan lainnya ke Citizen6@liputan6.com

Baca Selengkapnya ....

Pilih Hidroponik atau Organik?

Posted by Pupuk Kompos Abdi Alam 0 komentar
Green House Bikin Rusun Marunda Terlihat Asri Lima sampai enam jenis sayuran sudah ditanam oleh para petani di Green House Marunda Hijau. (Liputan6.com/Andrian M. Tunay)

Liputan6.com, Jakarta Sekilas mungkin tidak ada bedanya antara sayuran hidroponik dan organik. Namun, sebenarnya kedua jenis tidak bisa dibandingkan satu sama lain. Hidroponik bisa organik tapi juga tidak dengan media tanam air. Sementara organik tidak dengan media tanam air.
Tentu saja para alhi bakal menyarankan bahan makanan yang lebih organik dibanding yang lebih banyak tercemar bahan kimia.
Pakar Gizi Rumah Sakit Pusat Pertamina Jakarta, dr. Titi Sekarindah, MS, SpGK mengatakan, bila dilihat dari cara bercocok tanam, organiklah yang sudah dipastikan kesehatannya. Karena metode hidroponik, masih belum jelas nutrisi apa yang digunakan.
"Kita lihat dulu nutrisi yang digunakan. Kalau masuk kategori organik, berarti sama seperti sayuran organik. Kalau tidak, berarti organik yang sudah jelas status sehatnya," kata Titi saat dihubungi Health Liputan6.com, Kamis (24/4/2014)
Metode organik, lanjut Titi, pupuk yang digunakan sudah jelas kealamiannya. Selain itu, metode organik juga tidak disemprot. "Paling penting, pestisidanya tidak tertinggal. Kalau tertinggal, efek kumulatifnya ini yang berbahaya. Akan semakin banyak," kata Titi menambahkan.
Dari segi harga, sayuran yang dihasilkan berkat metode keduanya tergolong mahal. Di pasaran, sayuran hidroponik dibandrol dengan harga Rp 10.000 per kilo. Sedangkan sayuran organik, berkisar di antara Rp 12.000 sampai 15.000.
Dengan begitu, kata Titi, semua dikembalikan pada individu masing-masing. Namun yang jelas, apa pun jenis sayuran yang dipilih, pengolahannya yang terpenting.
"Kalau organik ini kan tergolong mahal. Pun hidroponik. Pandai-pandai kita memilih saja. Apa pun itu, cuci bersih dengan air mengalir," kata Titi menerangkan.

Baca Selengkapnya ....