Ketika Kotoran Sapi Disulap Jadi Biogas

Posted by Pupuk Kompos Abdi Alam Sabtu, 20 September 2014 0 komentar
Ketika Kotoran Sapi Disulap Jadi Biogas


Kotoran sapi yang telah diproses dapat dipergunakan sebagai bahan bakar untuk memasak. Foto: Dok. Riau Pos
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
 
 Kotoran ternak merupakan turunan dari kegiatan memelihara sapi, kambing, ayam, dan lainnya. Hasil utamanya tentu saja daging, susu, dan telur. Namun demikian, di Desa  Mulya Subur, Kecamatan Pangkalanlesung, Kabupaten Pelalawan  kotoran ternak dimanfaatkan menjadi energi alternatif biogas ramah lingkungan.

Laporan, MASHURIKURNIWAN, Pangkalanlesung

Penduduk desa ini kebanyakan bermatapencaharian sebagi peternak, petani, dan  pemerintahan. Kotoran ternak bagi masyarakat sekitar,  selain dapat dimanfaatkan sebagai energi alternatif pengganti bahan bakar  juga dapat mendukung usaha  tani  dalam penyediaan pupuk  organik, sehingga mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia.

Teknologi pengolahan biogas hanya  dengan peralatan yang sangat  sederhana, murah dan mudah diperoleh. Dengan demikian masyarakat sekitar mampu menghasilkan biogas memanfaatkan kotoran ternak sapi sebagai bahan bakar yang dimanfaatkan untuk memasak  dan penerangan ke depannya.

Pengolahan biogas  hanya dengan di gester yang terbuat dari bahan fiberglass. Peralatan itu dinilai tepat  diterapkan untuk masyarakat kecil mengingat  murahnya biaya instalasi serta kemudahan dalam pengoperasian nya.

Cara memanfaatkannya juga terbilang mudah.  Biaya yang dikeluarkan untuk mengubah kotoran menjadi energi atau bahan bakar  relatif terjangkau. Hasil yang dirasakan bisa menghemat pengeluaran keluarga. Itu dibandingkan jika menggunakan minyak atau gas elpiji untuk memasak.

Salah seorang masyarakat Desa Mulya  Subur, Joko Setiya mengatakan,  memanfaatkan kotoran sapi menjadi bahan bakar memang sudah  lama dicanangkan.

Tabung biodigester tersebut berisi kotoran sapi yang telah dicampur lumpur   untuk mempercepat proses pembuatan gas metana.  Dibutuhkan waktu 20 hari hingga bisa digunakan layaknya sebagai bahan bakar yang  menggunakan kompor gas.

Selain dimanfaatkan  gasnya,  kata dia, ampas atau sisa proses pembentukan biogas tersebut bisa digunakan untuk pupuk kompos. 

Untuk diketahui, biogas merupakan campuran gas yang dihasilkan oleh bakteri metanogenik yang terjadi pada material-material terurai secara alami dalam kondisi anaerobik. Pada umumnya biogas terdiri atas gas metana (CH4) 50 samapi 70 persen, gas karbon dioksida (CO2) 30 sampai 40 persen, hidrogen (H2) 5 sampai 10 persen, dan gas-gas lainnya dalam jumlah yang sedikit.

 Bahan bakar yang satu ini  mempunyai keunggulan dibandingkan dengan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang berasal dari fosil.  Sifatnya yang ramah lingkungan merupakan keunggulan dari biogas.

Kondisi ini merupakan suatu langkah untuk meminimalisir terjadinya pemanasan global yang diisukan berasal bari bahan bakar fosil.

Kasubdit Konservasi dan Rehabilitasi Lingkungan Dirjen PMD Kementerian Dalam Negeri, Dr Drajad Febrianto mengatakan, salah satu jalan untuk menghemat bahan bakar minyak, mencari sumber energi yang dapat diperbarui (renewable). Biogas  salah satu caranya.

Pengembangan energi terbarukan biogas dari kotoran ternak sapi ini merupakan langkah yang tepat dilakukan di Desa Mulya Subur. Karena di desa ini masyarakatnya sebagian ada yang beternak sapi. Seperti yang diketahui,  jelasnya, limbah ini mempunyai andil dalam pencemaran lingkungan.

Limbah  dari kotoran ternak  sapi  sering menimbulkan masalah lingkungan yang mengganggu kenyamanan hidup masyarakat disekitar  peternakan.

Namun itu berbeda di Desa Mulya Subur yang menurut dia, masyarakatnya sangat kreatif dalam pengembangan energi terbarukan dari kotoran ternak sapi menjadi biogas.

Terkait dengan hal itu,  salah satu kebijakan pemerintah untuk mensosialisasikan energi terbarukan ini dengan pemanfaatan limbah kotoran ternak sapi sebagai energi alternatif (biogas).

Walaupun skala biogas yang dihasilkan peternak kretif di Indonesia sekarang, sambungnya  masih untuk kebutuhan rumah tangga.

Dari penuturannya,  roduksi biogas memungkinkan pertanian berkelanjutan dengan sistem proses terbarukan dan ramah lingkungan. Pada umumnya, biogas terdiri atas gas metana (CH4) sekitar 55-80 persen. Yang mana  gas metana diproduksi dari kotoran hewan yang mengandung energi 4.800-6.700 Kcal/m3.

Bupati Pelalawan, H Haris menambahkan, program ini ini memberikan dampak terhadap lingkungan. Karena limbah ternak   dikelola secara baik. Dengan sentuhan teknologi tepat guna, maka limbah ternak bisa menjadi salah satu sumber energi baru terbarukan yakni berupa energi biogas.

 Untuk itu,  Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (BPMPD) Pelalawan yang mempunyai tugas untuk memberdayakan masyarakat.

Seluruh masyarakat Kabupaten Pelalawan yang bekerja di bidang peternakan, hendaknya bisa memanfaatkan turunan dari ternak tersebut. Kotoran ternak selain dapat dimanfaatkan sebagai energi alternatif pengganti bahan bakar minyak. Pembuatan biogas juga dapat mendukung  usaha tani dalam penyediaan pupuk organik.

‘’Jadi, penggunaan pupuk kimia bisa dikurangi. Banyaknya populasi ternak di kelompok tani ada peluang besar untuk pembuatan biogas.  Kita sudah menghimbau masyarakat dapat memanfaatkan potensi ini sebagai sumber energi alternatif, sehingga  dapat dimanfaatkan untuk pemenuhan energi  setiap harinya,’’ terang bupati.

Dikatakannya, pengembangan DME terbarukan ini sangat sinergi dengan program yang sedang diupayakan Pemerintah Kabupaten  Pelalawan yakni  adanya integrasi antara sawit dengan ternak. Yang mana setiap  masyarakat yang mempunyai lahan perkebunan  tersebut hendaknya memelihara ternak sapi. Dengan demikian, maka diharapkan daerah perkebunan sawit yang ada di Kabupaten Pelalawan dapat menjadi sentral ternak.

Namun lanjutnya, tetap harus menjaga lingkungan hidup dan sumber daya alam yang berkelanjutan. ‘’Dalam hal ini, Desa Mulya Subur Kecamatan Pangkalan Lesung telah ditunjuk sebagai percontohan desa untuk melakukan pengembangan DME terbarukan ini,’’ bebernya.

Mantan Ketua Asosiasi DPRD se-Indonesia ini mengatakan, bahwa populasi ternak di Kabupaten Pelalawan cukup tinggi dengan jumlah sebanyak 7.617 ekor yang tersebar di 12 kecamatan.

Pengamat lingkungan Riau, Rosyadi menjelaskan, energi yang paling banyak digunakan untuk aktifitas manusia eergi minyak bumi dan listrik.  Energi minyak bumi yang banyak dipergunakan dalam kehidupan sehari-hari adalah minyak tanah, bensin dan solar. Energi diperlukan untuk pertumbuhan kegiatan industri, jasa, perhubungan dan rumah tangga.

Menurutnya, kegiatan peternakan sapi dapat memberikan dampak positif terhadap pembangunan, yaitu peningkatan pendapatan peternak, perluasan kesempatan kerja, peningkatan ketersediaan pangan dan penghematan devisa. Namun tanpa dilakukan pengolahan limbah yang tepat, kegiatan ini menimbulkan permasalahan lingkungan.

‘’Maka itulah pemerintah menerapkan program Desa Mandiri Energi ini.  Usaha untuk mengurangi bahkan mengeliminasi dampak negatif dari kegiatan usaha peternakan sapi terhadap lingkungan.  Tergantung pada beberapa faktor seperti kebijakan pemerintah dan ketersediaan teknologi pengolahan limbah.’’ ujarnya.

 Oleh sebab itu, jelasnya, dengan adanya investasi instalasi biogas ini memberikan dampak positif pada peternakan sapi dari aspek ekonomi dan kebersihan lingkungan seperti bahan bakar gas, pupuk organik padat dan cair dengan kandungan unsur hara nitrogenphospatkalium(NPK) yang dibutuhkan tanaman cukup tersedia.

Selain itu, teknologi biogas memiliki keunggulan sangat praktis, bahan baku lokal cukup tersedia dan teknologinya mudah diaplikasikan.

Teknologi ini memanfaatkan mikroorganisme yang tersedia di alam untuk merombak dan mengolah berbagai limbah organik yang ditempatkan pada ruang kedap udara (anaerob).

Dijelaskannya, hasil proses perombakan tersebut dapat menghasilkan pupuk organik cair dan padat yang bermutu berupa gas yang terdiri dari gas metana (CH4) dan gas karbon dioksida (CO2).

‘’Gas tersebut dapat dimanfaatkan menjadi bahan bakar gas (BBG) yang biasa disebut dengan biogas,’’ pungkasnya.***
 
sumber : http://www.riaupos.co/40261-berita-ketika-kotoran-sapi-disulap-jadi-biogas.html#.VBzg-ldVVkg

 




Baca Selengkapnya ....

Mendulang Rupiah Dari Kotoran Sapi | Kisah Sukses

Posted by Pupuk Kompos Abdi Alam Kamis, 04 September 2014 0 komentar
 
KISAH SUKSES – Tidak ada jalan singkat dan mudah untuk meraih sukses.  Semua bisa diraih jika kita mau berusaha. Itulah yang dilakukan Joko Iswanto, warga Kampung Tumbit Dayak, Kecamatan Teluk Bayur ini terbilang berhasil di kampungnya.  Dari  luar, rumah Joko Iswanto tampak masih sederhana. Sebuah rumah panggung yang terbuat dari kayu dan dilapisi cat berwarna hijau. Pada bagian depan rumah terlihat sebuah warung yang menjual beraneka ragam jajanan anak-anak dan sebuah mesin penyaring air yang digunakan untuk usaha air isi ulang.  Warung itu hanyalah usaha sampingan Joko. Bisnis utama yang ditekuninya sejak tahun 2009 ialah memproduksi pupuk kandang. “Awalnya saya melihat ada limbah kotoran sapi yang banyak ditemukan di kampung ini. Kebetulan waktu itu PT Berau Coal juga memberikan pelatihan untuk membuat pupuk kompos,” ujarnya.  Selain dilatih membuat pupuk kompos, para peserta pelatihan juga diajarkan cara memasarkan hasil produksi. “Saya diberikan gambaran untuk memproduksi pupuk kompos, dan pupuk kompos itu bisa digunakan untuk area reklamasi pascatambang PT Berau Coal. Bahkan seluruh hasil produksi pupuk kompos sampai sekarang dibeli oleh PT Berau Coal,” ungkapnya.  Untuk memproduksi kompos, Joko membutuhkan waktu agak lama. Paling cepat, kompos siap digunakan setelah melalui proses selama 45 hari. Memang tidak sulit mencari bahan baku pupuk kandang tersebut karena di kampung tempat Joko tinggal banyak peternak sapi dan petani.  Bahan baku utama untuk membuat pupuk kandang adalah kotoran sapi, ayam atau kambing. Selain itu juga diperlukan rerumputan, serbuk gergaji, dedaunan atau batang padi dengan komposisi kotoran hewan ternak minimal 30%. Sedangkan 24% sampah organik sisanya menggunakan rumput hijau.  Dalam waktu 45 hari, kompos yang sudah padat sesekali diaduk. “Kalau tidak diaduk, kompos jadi padat dan proses pembusukannya jadi lebih lama,” jelasnya.  Setiap kali produksi, Joko bisa menghasilkan pupuk kandang sebanyak 50 ton. Harga terendah pupuk kandang hasil produksinya dijual dengan harga Rp435 per kilogram. Itu artinya, dalam satu kali produksi, Joko bisa meraih omset hingga Rp 21.750.000.  Jika dipotong biaya produksi Rp 15.000.000, Joko mendapat penghasilan bersih Rp6.750.000.  Namun harga tersebut jauh berbeda dengan harga pasar. Saat ini Joko hanya menjual hasil produksi kepada PT Berau Coal. Karena pihak perusahaan menggunakan alat transportasinya sendiri, harganya jadi lebih murah.  Untuk meningkatkan pendapatan, Joko berencana menambah kapasitas produksi pupuk kandang dan menjualnya ke tempat lain. Jika mengikuti harga pasar, harganya bisa mencapai Rp720 per kilogram.  Selama ini, Joko mengaku tidak menemukan kendala berarti selama meproduksi kompos. “Kecuali membutuhkan waktu yang agak lama sampai kompos itu siap dijual,” imbuhnya.  Akan tetapi, Joko tidak berdiam diri begitu saja. Selama memproduksi kompos, Joko juga membuka usaha kecil-kecilan di depan rumahnya, Joko menjual air isi ulang kepada warga di sekitar rumahnya. “Jadi tetap ada penghasilan yang masuk sampai kompos itu terjual,” tandasnya. Kisah Sukses Produksi Pupuk Kompos  Usaha Joko sebagai produsen kompos ini juga banyak ditiru oleh warga di sekitar rumahnya. Setidaknya ada delapan warga Kampung Tumbit Dayak yang kini ikut memproduksi pupuk kompos.  Kampung Tumbit Dayak merupakan salah satu kampung dampingan PT Berau Coal.  Perusahaan batu bara terbesar di Kabupaten Berau tersebut terlah berkomitmen untuk meningkat kesejahteraan masyarakat di sekitar tambang.  Salah satu upaya itu dilakukan dengan memberdayakan masyarakat, tidak hanya sekadar menerima bantuan, namun bantuan itu juga diharapkan bisa membuat masyarakat sekitar tambang menjadi masyarakat yang mandiri.  Joko adalah salah satu warga yang berhasil memberdayakan keluarga dan warga disekitarnya. Berkat kerja kerasnya itu Joko mendapat penghargaan dari Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (Menkokesra), dan Gelar Karya Pemberdayaan Masyarakat dan CSR Best Practice for Millennium Development Goals.

http://berbagikisah.com/berbagi-kisah/story-a/

- See more at: http://berbagikisah.com/berbagi-kisah/story-a/#sthash.UeckKBAx.dpuf


Mendulang Rupiah dari Kotoran Sapi | Kisah Sukses

KISAH SUKSES – Tidak ada jalan singkat dan mudah untuk meraih sukses.  Semua bisa diraih jika kita mau berusaha. Itulah yang dilakukan Joko Iswanto, warga Kampung Tumbit Dayak, Kecamatan Teluk Bayur ini terbilang berhasil di kampungnya.
Dari  luar, rumah Joko Iswanto tampak masih sederhana. Sebuah rumah panggung yang terbuat dari kayu dan dilapisi cat berwarna hijau. Pada bagian depan rumah terlihat sebuah warung yang menjual beraneka ragam jajanan anak-anak dan sebuah mesin penyaring air yang digunakan untuk usaha air isi ulang.
Warung itu hanyalah usaha sampingan Joko. Bisnis utama yang ditekuninya sejak tahun 2009 ialah memproduksi pupuk kandang. “Awalnya saya melihat ada limbah kotoran sapi yang banyak ditemukan di kampung ini. Kebetulan waktu itu PT Berau Coal juga memberikan pelatihan untuk membuat pupuk kompos,” ujarnya.
Selain dilatih membuat pupuk kompos, para peserta pelatihan juga diajarkan cara memasarkan hasil produksi. “Saya diberikan gambaran untuk memproduksi pupuk kompos, dan pupuk kompos itu bisa digunakan untuk area reklamasi pascatambang PT Berau Coal. Bahkan seluruh hasil produksi pupuk kompos sampai sekarang dibeli oleh PT Berau Coal,” ungkapnya.
Untuk memproduksi kompos, Joko membutuhkan waktu agak lama. Paling cepat, kompos siap digunakan setelah melalui proses selama 45 hari. Memang tidak sulit mencari bahan baku pupuk kandang tersebut karena di kampung tempat Joko tinggal banyak peternak sapi dan petani.
Bahan baku utama untuk membuat pupuk kandang adalah kotoran sapi, ayam atau kambing. Selain itu juga diperlukan rerumputan, serbuk gergaji, dedaunan atau batang padi dengan komposisi kotoran hewan ternak minimal 30%. Sedangkan 24% sampah organik sisanya menggunakan rumput hijau.
Dalam waktu 45 hari, kompos yang sudah padat sesekali diaduk. “Kalau tidak diaduk, kompos jadi padat dan proses pembusukannya jadi lebih lama,” jelasnya.
Setiap kali produksi, Joko bisa menghasilkan pupuk kandang sebanyak 50 ton. Harga terendah pupuk kandang hasil produksinya dijual dengan harga Rp435 per kilogram. Itu artinya, dalam satu kali produksi, Joko bisa meraih omset hingga Rp 21.750.000.
Jika dipotong biaya produksi Rp 15.000.000, Joko mendapat penghasilan bersih Rp6.750.000.
Namun harga tersebut jauh berbeda dengan harga pasar. Saat ini Joko hanya menjual hasil produksi kepada PT Berau Coal. Karena pihak perusahaan menggunakan alat transportasinya sendiri, harganya jadi lebih murah.
Untuk meningkatkan pendapatan, Joko berencana menambah kapasitas produksi pupuk kandang dan menjualnya ke tempat lain. Jika mengikuti harga pasar, harganya bisa mencapai Rp720 per kilogram.
Selama ini, Joko mengaku tidak menemukan kendala berarti selama meproduksi kompos. “Kecuali membutuhkan waktu yang agak lama sampai kompos itu siap dijual,” imbuhnya.
Akan tetapi, Joko tidak berdiam diri begitu saja. Selama memproduksi kompos, Joko juga membuka usaha kecil-kecilan di depan rumahnya, Joko menjual air isi ulang kepada warga di sekitar rumahnya. “Jadi tetap ada penghasilan yang masuk sampai kompos itu terjual,” tandasnya.

Kisah Sukses Produksi Pupuk Kompos

Usaha Joko sebagai produsen kompos ini juga banyak ditiru oleh warga di sekitar rumahnya. Setidaknya ada delapan warga Kampung Tumbit Dayak yang kini ikut memproduksi pupuk kompos.
Kampung Tumbit Dayak merupakan salah satu kampung dampingan PT Berau Coal.
Perusahaan batu bara terbesar di Kabupaten Berau tersebut terlah berkomitmen untuk meningkat kesejahteraan masyarakat di sekitar tambang.
Salah satu upaya itu dilakukan dengan memberdayakan masyarakat, tidak hanya sekadar menerima bantuan, namun bantuan itu juga diharapkan bisa membuat masyarakat sekitar tambang menjadi masyarakat yang mandiri.
Joko adalah salah satu warga yang berhasil memberdayakan keluarga dan warga disekitarnya. Berkat kerja kerasnya itu Joko mendapat penghargaan dari Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (Menkokesra), dan Gelar Karya Pemberdayaan Masyarakat dan CSR Best Practice for Millennium Development Goals.

- See more at: http://berbagikisah.com/berbagi-kisah/story-a/#sthash.UeckKBAx.dpuf


Mendulang Rupiah dari Kotoran Sapi | Kisah Sukses

KISAH SUKSES – Tidak ada jalan singkat dan mudah untuk meraih sukses.  Semua bisa diraih jika kita mau berusaha. Itulah yang dilakukan Joko Iswanto, warga Kampung Tumbit Dayak, Kecamatan Teluk Bayur ini terbilang berhasil di kampungnya.
Dari  luar, rumah Joko Iswanto tampak masih sederhana. Sebuah rumah panggung yang terbuat dari kayu dan dilapisi cat berwarna hijau. Pada bagian depan rumah terlihat sebuah warung yang menjual beraneka ragam jajanan anak-anak dan sebuah mesin penyaring air yang digunakan untuk usaha air isi ulang.
Warung itu hanyalah usaha sampingan Joko. Bisnis utama yang ditekuninya sejak tahun 2009 ialah memproduksi pupuk kandang. “Awalnya saya melihat ada limbah kotoran sapi yang banyak ditemukan di kampung ini. Kebetulan waktu itu PT Berau Coal juga memberikan pelatihan untuk membuat pupuk kompos,” ujarnya.
Selain dilatih membuat pupuk kompos, para peserta pelatihan juga diajarkan cara memasarkan hasil produksi. “Saya diberikan gambaran untuk memproduksi pupuk kompos, dan pupuk kompos itu bisa digunakan untuk area reklamasi pascatambang PT Berau Coal. Bahkan seluruh hasil produksi pupuk kompos sampai sekarang dibeli oleh PT Berau Coal,” ungkapnya.
Untuk memproduksi kompos, Joko membutuhkan waktu agak lama. Paling cepat, kompos siap digunakan setelah melalui proses selama 45 hari. Memang tidak sulit mencari bahan baku pupuk kandang tersebut karena di kampung tempat Joko tinggal banyak peternak sapi dan petani.
Bahan baku utama untuk membuat pupuk kandang adalah kotoran sapi, ayam atau kambing. Selain itu juga diperlukan rerumputan, serbuk gergaji, dedaunan atau batang padi dengan komposisi kotoran hewan ternak minimal 30%. Sedangkan 24% sampah organik sisanya menggunakan rumput hijau.
Dalam waktu 45 hari, kompos yang sudah padat sesekali diaduk. “Kalau tidak diaduk, kompos jadi padat dan proses pembusukannya jadi lebih lama,” jelasnya.
Setiap kali produksi, Joko bisa menghasilkan pupuk kandang sebanyak 50 ton. Harga terendah pupuk kandang hasil produksinya dijual dengan harga Rp435 per kilogram. Itu artinya, dalam satu kali produksi, Joko bisa meraih omset hingga Rp 21.750.000.
Jika dipotong biaya produksi Rp 15.000.000, Joko mendapat penghasilan bersih Rp6.750.000.
Namun harga tersebut jauh berbeda dengan harga pasar. Saat ini Joko hanya menjual hasil produksi kepada PT Berau Coal. Karena pihak perusahaan menggunakan alat transportasinya sendiri, harganya jadi lebih murah.
Untuk meningkatkan pendapatan, Joko berencana menambah kapasitas produksi pupuk kandang dan menjualnya ke tempat lain. Jika mengikuti harga pasar, harganya bisa mencapai Rp720 per kilogram.
Selama ini, Joko mengaku tidak menemukan kendala berarti selama meproduksi kompos. “Kecuali membutuhkan waktu yang agak lama sampai kompos itu siap dijual,” imbuhnya.
Akan tetapi, Joko tidak berdiam diri begitu saja. Selama memproduksi kompos, Joko juga membuka usaha kecil-kecilan di depan rumahnya, Joko menjual air isi ulang kepada warga di sekitar rumahnya. “Jadi tetap ada penghasilan yang masuk sampai kompos itu terjual,” tandasnya.

Kisah Sukses Produksi Pupuk Kompos

Usaha Joko sebagai produsen kompos ini juga banyak ditiru oleh warga di sekitar rumahnya. Setidaknya ada delapan warga Kampung Tumbit Dayak yang kini ikut memproduksi pupuk kompos.
Kampung Tumbit Dayak merupakan salah satu kampung dampingan PT Berau Coal.
Perusahaan batu bara terbesar di Kabupaten Berau tersebut terlah berkomitmen untuk meningkat kesejahteraan masyarakat di sekitar tambang.
Salah satu upaya itu dilakukan dengan memberdayakan masyarakat, tidak hanya sekadar menerima bantuan, namun bantuan itu juga diharapkan bisa membuat masyarakat sekitar tambang menjadi masyarakat yang mandiri.
Joko adalah salah satu warga yang berhasil memberdayakan keluarga dan warga disekitarnya. Berkat kerja kerasnya itu Joko mendapat penghargaan dari Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (Menkokesra), dan Gelar Karya Pemberdayaan Masyarakat dan CSR Best Practice for Millennium Development Goals.

- See more at: http://berbagikisah.com/berbagi-kisah/story-a/#sthash.UeckKBAx.dpuf


Mendulang Rupiah dari Kotoran Sapi | Kisah Sukses

KISAH SUKSES – Tidak ada jalan singkat dan mudah untuk meraih sukses.  Semua bisa diraih jika kita mau berusaha. Itulah yang dilakukan Joko Iswanto, warga Kampung Tumbit Dayak, Kecamatan Teluk Bayur ini terbilang berhasil di kampungnya.
Dari  luar, rumah Joko Iswanto tampak masih sederhana. Sebuah rumah panggung yang terbuat dari kayu dan dilapisi cat berwarna hijau. Pada bagian depan rumah terlihat sebuah warung yang menjual beraneka ragam jajanan anak-anak dan sebuah mesin penyaring air yang digunakan untuk usaha air isi ulang.
Warung itu hanyalah usaha sampingan Joko. Bisnis utama yang ditekuninya sejak tahun 2009 ialah memproduksi pupuk kandang. “Awalnya saya melihat ada limbah kotoran sapi yang banyak ditemukan di kampung ini. Kebetulan waktu itu PT Berau Coal juga memberikan pelatihan untuk membuat pupuk kompos,” ujarnya.
Selain dilatih membuat pupuk kompos, para peserta pelatihan juga diajarkan cara memasarkan hasil produksi. “Saya diberikan gambaran untuk memproduksi pupuk kompos, dan pupuk kompos itu bisa digunakan untuk area reklamasi pascatambang PT Berau Coal. Bahkan seluruh hasil produksi pupuk kompos sampai sekarang dibeli oleh PT Berau Coal,” ungkapnya.
Untuk memproduksi kompos, Joko membutuhkan waktu agak lama. Paling cepat, kompos siap digunakan setelah melalui proses selama 45 hari. Memang tidak sulit mencari bahan baku pupuk kandang tersebut karena di kampung tempat Joko tinggal banyak peternak sapi dan petani.
Bahan baku utama untuk membuat pupuk kandang adalah kotoran sapi, ayam atau kambing. Selain itu juga diperlukan rerumputan, serbuk gergaji, dedaunan atau batang padi dengan komposisi kotoran hewan ternak minimal 30%. Sedangkan 24% sampah organik sisanya menggunakan rumput hijau.
Dalam waktu 45 hari, kompos yang sudah padat sesekali diaduk. “Kalau tidak diaduk, kompos jadi padat dan proses pembusukannya jadi lebih lama,” jelasnya.
Setiap kali produksi, Joko bisa menghasilkan pupuk kandang sebanyak 50 ton. Harga terendah pupuk kandang hasil produksinya dijual dengan harga Rp435 per kilogram. Itu artinya, dalam satu kali produksi, Joko bisa meraih omset hingga Rp 21.750.000.
Jika dipotong biaya produksi Rp 15.000.000, Joko mendapat penghasilan bersih Rp6.750.000.
Namun harga tersebut jauh berbeda dengan harga pasar. Saat ini Joko hanya menjual hasil produksi kepada PT Berau Coal. Karena pihak perusahaan menggunakan alat transportasinya sendiri, harganya jadi lebih murah.
Untuk meningkatkan pendapatan, Joko berencana menambah kapasitas produksi pupuk kandang dan menjualnya ke tempat lain. Jika mengikuti harga pasar, harganya bisa mencapai Rp720 per kilogram.
Selama ini, Joko mengaku tidak menemukan kendala berarti selama meproduksi kompos. “Kecuali membutuhkan waktu yang agak lama sampai kompos itu siap dijual,” imbuhnya.
Akan tetapi, Joko tidak berdiam diri begitu saja. Selama memproduksi kompos, Joko juga membuka usaha kecil-kecilan di depan rumahnya, Joko menjual air isi ulang kepada warga di sekitar rumahnya. “Jadi tetap ada penghasilan yang masuk sampai kompos itu terjual,” tandasnya.

Kisah Sukses Produksi Pupuk Kompos

Usaha Joko sebagai produsen kompos ini juga banyak ditiru oleh warga di sekitar rumahnya. Setidaknya ada delapan warga Kampung Tumbit Dayak yang kini ikut memproduksi pupuk kompos.
Kampung Tumbit Dayak merupakan salah satu kampung dampingan PT Berau Coal.
Perusahaan batu bara terbesar di Kabupaten Berau tersebut terlah berkomitmen untuk meningkat kesejahteraan masyarakat di sekitar tambang.
Salah satu upaya itu dilakukan dengan memberdayakan masyarakat, tidak hanya sekadar menerima bantuan, namun bantuan itu juga diharapkan bisa membuat masyarakat sekitar tambang menjadi masyarakat yang mandiri.
Joko adalah salah satu warga yang berhasil memberdayakan keluarga dan warga disekitarnya. Berkat kerja kerasnya itu Joko mendapat penghargaan dari Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (Menkokesra), dan Gelar Karya Pemberdayaan Masyarakat dan CSR Best Practice for Millennium Development Goals.

- See more at: http://berbagikisah.com/berbagi-kisah/story-a/#sthash.UeckKBAx.dpuf


Mendulang Rupiah dari Kotoran Sapi | Kisah Sukses

KISAH SUKSES – Tidak ada jalan singkat dan mudah untuk meraih sukses.  Semua bisa diraih jika kita mau berusaha. Itulah yang dilakukan Joko Iswanto, warga Kampung Tumbit Dayak, Kecamatan Teluk Bayur ini terbilang berhasil di kampungnya.
Dari  luar, rumah Joko Iswanto tampak masih sederhana. Sebuah rumah panggung yang terbuat dari kayu dan dilapisi cat berwarna hijau. Pada bagian depan rumah terlihat sebuah warung yang menjual beraneka ragam jajanan anak-anak dan sebuah mesin penyaring air yang digunakan untuk usaha air isi ulang.
Warung itu hanyalah usaha sampingan Joko. Bisnis utama yang ditekuninya sejak tahun 2009 ialah memproduksi pupuk kandang. “Awalnya saya melihat ada limbah kotoran sapi yang banyak ditemukan di kampung ini. Kebetulan waktu itu PT Berau Coal juga memberikan pelatihan untuk membuat pupuk kompos,” ujarnya.
Selain dilatih membuat pupuk kompos, para peserta pelatihan juga diajarkan cara memasarkan hasil produksi. “Saya diberikan gambaran untuk memproduksi pupuk kompos, dan pupuk kompos itu bisa digunakan untuk area reklamasi pascatambang PT Berau Coal. Bahkan seluruh hasil produksi pupuk kompos sampai sekarang dibeli oleh PT Berau Coal,” ungkapnya.
Untuk memproduksi kompos, Joko membutuhkan waktu agak lama. Paling cepat, kompos siap digunakan setelah melalui proses selama 45 hari. Memang tidak sulit mencari bahan baku pupuk kandang tersebut karena di kampung tempat Joko tinggal banyak peternak sapi dan petani.
Bahan baku utama untuk membuat pupuk kandang adalah kotoran sapi, ayam atau kambing. Selain itu juga diperlukan rerumputan, serbuk gergaji, dedaunan atau batang padi dengan komposisi kotoran hewan ternak minimal 30%. Sedangkan 24% sampah organik sisanya menggunakan rumput hijau.
Dalam waktu 45 hari, kompos yang sudah padat sesekali diaduk. “Kalau tidak diaduk, kompos jadi padat dan proses pembusukannya jadi lebih lama,” jelasnya.
Setiap kali produksi, Joko bisa menghasilkan pupuk kandang sebanyak 50 ton. Harga terendah pupuk kandang hasil produksinya dijual dengan harga Rp435 per kilogram. Itu artinya, dalam satu kali produksi, Joko bisa meraih omset hingga Rp 21.750.000.
Jika dipotong biaya produksi Rp 15.000.000, Joko mendapat penghasilan bersih Rp6.750.000.
Namun harga tersebut jauh berbeda dengan harga pasar. Saat ini Joko hanya menjual hasil produksi kepada PT Berau Coal. Karena pihak perusahaan menggunakan alat transportasinya sendiri, harganya jadi lebih murah.
Untuk meningkatkan pendapatan, Joko berencana menambah kapasitas produksi pupuk kandang dan menjualnya ke tempat lain. Jika mengikuti harga pasar, harganya bisa mencapai Rp720 per kilogram.
Selama ini, Joko mengaku tidak menemukan kendala berarti selama meproduksi kompos. “Kecuali membutuhkan waktu yang agak lama sampai kompos itu siap dijual,” imbuhnya.
Akan tetapi, Joko tidak berdiam diri begitu saja. Selama memproduksi kompos, Joko juga membuka usaha kecil-kecilan di depan rumahnya, Joko menjual air isi ulang kepada warga di sekitar rumahnya. “Jadi tetap ada penghasilan yang masuk sampai kompos itu terjual,” tandasnya.

Kisah Sukses Produksi Pupuk Kompos

Usaha Joko sebagai produsen kompos ini juga banyak ditiru oleh warga di sekitar rumahnya. Setidaknya ada delapan warga Kampung Tumbit Dayak yang kini ikut memproduksi pupuk kompos.
Kampung Tumbit Dayak merupakan salah satu kampung dampingan PT Berau Coal.
Perusahaan batu bara terbesar di Kabupaten Berau tersebut terlah berkomitmen untuk meningkat kesejahteraan masyarakat di sekitar tambang.
Salah satu upaya itu dilakukan dengan memberdayakan masyarakat, tidak hanya sekadar menerima bantuan, namun bantuan itu juga diharapkan bisa membuat masyarakat sekitar tambang menjadi masyarakat yang mandiri.
Joko adalah salah satu warga yang berhasil memberdayakan keluarga dan warga disekitarnya. Berkat kerja kerasnya itu Joko mendapat penghargaan dari Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (Menkokesra), dan Gelar Karya Pemberdayaan Masyarakat dan CSR Best Practice for Millennium Development Goals.

- See more at: http://berbagikisah.com/berbagi-kisah/story-a/#sthash.UeckKBAx.dpuf


Mendulang Rupiah dari Kotoran Sapi | Kisah Sukses

KISAH SUKSES – Tidak ada jalan singkat dan mudah untuk meraih sukses.  Semua bisa diraih jika kita mau berusaha. Itulah yang dilakukan Joko Iswanto, warga Kampung Tumbit Dayak, Kecamatan Teluk Bayur ini terbilang berhasil di kampungnya.
Dari  luar, rumah Joko Iswanto tampak masih sederhana. Sebuah rumah panggung yang terbuat dari kayu dan dilapisi cat berwarna hijau. Pada bagian depan rumah terlihat sebuah warung yang menjual beraneka ragam jajanan anak-anak dan sebuah mesin penyaring air yang digunakan untuk usaha air isi ulang.
Warung itu hanyalah usaha sampingan Joko. Bisnis utama yang ditekuninya sejak tahun 2009 ialah memproduksi pupuk kandang. “Awalnya saya melihat ada limbah kotoran sapi yang banyak ditemukan di kampung ini. Kebetulan waktu itu PT Berau Coal juga memberikan pelatihan untuk membuat pupuk kompos,” ujarnya.
Selain dilatih membuat pupuk kompos, para peserta pelatihan juga diajarkan cara memasarkan hasil produksi. “Saya diberikan gambaran untuk memproduksi pupuk kompos, dan pupuk kompos itu bisa digunakan untuk area reklamasi pascatambang PT Berau Coal. Bahkan seluruh hasil produksi pupuk kompos sampai sekarang dibeli oleh PT Berau Coal,” ungkapnya.
Untuk memproduksi kompos, Joko membutuhkan waktu agak lama. Paling cepat, kompos siap digunakan setelah melalui proses selama 45 hari. Memang tidak sulit mencari bahan baku pupuk kandang tersebut karena di kampung tempat Joko tinggal banyak peternak sapi dan petani.
Bahan baku utama untuk membuat pupuk kandang adalah kotoran sapi, ayam atau kambing. Selain itu juga diperlukan rerumputan, serbuk gergaji, dedaunan atau batang padi dengan komposisi kotoran hewan ternak minimal 30%. Sedangkan 24% sampah organik sisanya menggunakan rumput hijau.
Dalam waktu 45 hari, kompos yang sudah padat sesekali diaduk. “Kalau tidak diaduk, kompos jadi padat dan proses pembusukannya jadi lebih lama,” jelasnya.
Setiap kali produksi, Joko bisa menghasilkan pupuk kandang sebanyak 50 ton. Harga terendah pupuk kandang hasil produksinya dijual dengan harga Rp435 per kilogram. Itu artinya, dalam satu kali produksi, Joko bisa meraih omset hingga Rp 21.750.000.
Jika dipotong biaya produksi Rp 15.000.000, Joko mendapat penghasilan bersih Rp6.750.000.
Namun harga tersebut jauh berbeda dengan harga pasar. Saat ini Joko hanya menjual hasil produksi kepada PT Berau Coal. Karena pihak perusahaan menggunakan alat transportasinya sendiri, harganya jadi lebih murah.
Untuk meningkatkan pendapatan, Joko berencana menambah kapasitas produksi pupuk kandang dan menjualnya ke tempat lain. Jika mengikuti harga pasar, harganya bisa mencapai Rp720 per kilogram.
Selama ini, Joko mengaku tidak menemukan kendala berarti selama meproduksi kompos. “Kecuali membutuhkan waktu yang agak lama sampai kompos itu siap dijual,” imbuhnya.
Akan tetapi, Joko tidak berdiam diri begitu saja. Selama memproduksi kompos, Joko juga membuka usaha kecil-kecilan di depan rumahnya, Joko menjual air isi ulang kepada warga di sekitar rumahnya. “Jadi tetap ada penghasilan yang masuk sampai kompos itu terjual,” tandasnya.

Kisah Sukses Produksi Pupuk Kompos

Usaha Joko sebagai produsen kompos ini juga banyak ditiru oleh warga di sekitar rumahnya. Setidaknya ada delapan warga Kampung Tumbit Dayak yang kini ikut memproduksi pupuk kompos.
Kampung Tumbit Dayak merupakan salah satu kampung dampingan PT Berau Coal.
Perusahaan batu bara terbesar di Kabupaten Berau tersebut terlah berkomitmen untuk meningkat kesejahteraan masyarakat di sekitar tambang.
Salah satu upaya itu dilakukan dengan memberdayakan masyarakat, tidak hanya sekadar menerima bantuan, namun bantuan itu juga diharapkan bisa membuat masyarakat sekitar tambang menjadi masyarakat yang mandiri.
Joko adalah salah satu warga yang berhasil memberdayakan keluarga dan warga disekitarnya. Berkat kerja kerasnya itu Joko mendapat penghargaan dari Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (Menkokesra), dan Gelar Karya Pemberdayaan Masyarakat dan CSR Best Practice for Millennium Development Goals.

- See more at: http://berbagikisah.com/berbagi-kisah/story-a/#sthash.UeckKBAx.dpuf


Mendulang Rupiah dari Kotoran Sapi | Kisah Sukses

KISAH SUKSES – Tidak ada jalan singkat dan mudah untuk meraih sukses.  Semua bisa diraih jika kita mau berusaha. Itulah yang dilakukan Joko Iswanto, warga Kampung Tumbit Dayak, Kecamatan Teluk Bayur ini terbilang berhasil di kampungnya.
Dari  luar, rumah Joko Iswanto tampak masih sederhana. Sebuah rumah panggung yang terbuat dari kayu dan dilapisi cat berwarna hijau. Pada bagian depan rumah terlihat sebuah warung yang menjual beraneka ragam jajanan anak-anak dan sebuah mesin penyaring air yang digunakan untuk usaha air isi ulang.
Warung itu hanyalah usaha sampingan Joko. Bisnis utama yang ditekuninya sejak tahun 2009 ialah memproduksi pupuk kandang. “Awalnya saya melihat ada limbah kotoran sapi yang banyak ditemukan di kampung ini. Kebetulan waktu itu PT Berau Coal juga memberikan pelatihan untuk membuat pupuk kompos,” ujarnya.
Selain dilatih membuat pupuk kompos, para peserta pelatihan juga diajarkan cara memasarkan hasil produksi. “Saya diberikan gambaran untuk memproduksi pupuk kompos, dan pupuk kompos itu bisa digunakan untuk area reklamasi pascatambang PT Berau Coal. Bahkan seluruh hasil produksi pupuk kompos sampai sekarang dibeli oleh PT Berau Coal,” ungkapnya.
Untuk memproduksi kompos, Joko membutuhkan waktu agak lama. Paling cepat, kompos siap digunakan setelah melalui proses selama 45 hari. Memang tidak sulit mencari bahan baku pupuk kandang tersebut karena di kampung tempat Joko tinggal banyak peternak sapi dan petani.
Bahan baku utama untuk membuat pupuk kandang adalah kotoran sapi, ayam atau kambing. Selain itu juga diperlukan rerumputan, serbuk gergaji, dedaunan atau batang padi dengan komposisi kotoran hewan ternak minimal 30%. Sedangkan 24% sampah organik sisanya menggunakan rumput hijau.
Dalam waktu 45 hari, kompos yang sudah padat sesekali diaduk. “Kalau tidak diaduk, kompos jadi padat dan proses pembusukannya jadi lebih lama,” jelasnya.
Setiap kali produksi, Joko bisa menghasilkan pupuk kandang sebanyak 50 ton. Harga terendah pupuk kandang hasil produksinya dijual dengan harga Rp435 per kilogram. Itu artinya, dalam satu kali produksi, Joko bisa meraih omset hingga Rp 21.750.000.
Jika dipotong biaya produksi Rp 15.000.000, Joko mendapat penghasilan bersih Rp6.750.000.
Namun harga tersebut jauh berbeda dengan harga pasar. Saat ini Joko hanya menjual hasil produksi kepada PT Berau Coal. Karena pihak perusahaan menggunakan alat transportasinya sendiri, harganya jadi lebih murah.
Untuk meningkatkan pendapatan, Joko berencana menambah kapasitas produksi pupuk kandang dan menjualnya ke tempat lain. Jika mengikuti harga pasar, harganya bisa mencapai Rp720 per kilogram.
Selama ini, Joko mengaku tidak menemukan kendala berarti selama meproduksi kompos. “Kecuali membutuhkan waktu yang agak lama sampai kompos itu siap dijual,” imbuhnya.
Akan tetapi, Joko tidak berdiam diri begitu saja. Selama memproduksi kompos, Joko juga membuka usaha kecil-kecilan di depan rumahnya, Joko menjual air isi ulang kepada warga di sekitar rumahnya. “Jadi tetap ada penghasilan yang masuk sampai kompos itu terjual,” tandasnya.

Kisah Sukses Produksi Pupuk Kompos

Usaha Joko sebagai produsen kompos ini juga banyak ditiru oleh warga di sekitar rumahnya. Setidaknya ada delapan warga Kampung Tumbit Dayak yang kini ikut memproduksi pupuk kompos.
Kampung Tumbit Dayak merupakan salah satu kampung dampingan PT Berau Coal.
Perusahaan batu bara terbesar di Kabupaten Berau tersebut terlah berkomitmen untuk meningkat kesejahteraan masyarakat di sekitar tambang.
Salah satu upaya itu dilakukan dengan memberdayakan masyarakat, tidak hanya sekadar menerima bantuan, namun bantuan itu juga diharapkan bisa membuat masyarakat sekitar tambang menjadi masyarakat yang mandiri.
Joko adalah salah satu warga yang berhasil memberdayakan keluarga dan warga disekitarnya. Berkat kerja kerasnya itu Joko mendapat penghargaan dari Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (Menkokesra), dan Gelar Karya Pemberdayaan Masyarakat dan CSR Best Practice for Millennium Development Goals.

- See more at: http://berbagikisah.com/berbagi-kisah/story-a/#sthash.UeckKBAx.dpuf


Mendulang Rupiah dari Kotoran Sapi | Kisah Sukses

KISAH SUKSES – Tidak ada jalan singkat dan mudah untuk meraih sukses.  Semua bisa diraih jika kita mau berusaha. Itulah yang dilakukan Joko Iswanto, warga Kampung Tumbit Dayak, Kecamatan Teluk Bayur ini terbilang berhasil di kampungnya.
Dari  luar, rumah Joko Iswanto tampak masih sederhana. Sebuah rumah panggung yang terbuat dari kayu dan dilapisi cat berwarna hijau. Pada bagian depan rumah terlihat sebuah warung yang menjual beraneka ragam jajanan anak-anak dan sebuah mesin penyaring air yang digunakan untuk usaha air isi ulang.
Warung itu hanyalah usaha sampingan Joko. Bisnis utama yang ditekuninya sejak tahun 2009 ialah memproduksi pupuk kandang. “Awalnya saya melihat ada limbah kotoran sapi yang banyak ditemukan di kampung ini. Kebetulan waktu itu PT Berau Coal juga memberikan pelatihan untuk membuat pupuk kompos,” ujarnya.
Selain dilatih membuat pupuk kompos, para peserta pelatihan juga diajarkan cara memasarkan hasil produksi. “Saya diberikan gambaran untuk memproduksi pupuk kompos, dan pupuk kompos itu bisa digunakan untuk area reklamasi pascatambang PT Berau Coal. Bahkan seluruh hasil produksi pupuk kompos sampai sekarang dibeli oleh PT Berau Coal,” ungkapnya.
Untuk memproduksi kompos, Joko membutuhkan waktu agak lama. Paling cepat, kompos siap digunakan setelah melalui proses selama 45 hari. Memang tidak sulit mencari bahan baku pupuk kandang tersebut karena di kampung tempat Joko tinggal banyak peternak sapi dan petani.
Bahan baku utama untuk membuat pupuk kandang adalah kotoran sapi, ayam atau kambing. Selain itu juga diperlukan rerumputan, serbuk gergaji, dedaunan atau batang padi dengan komposisi kotoran hewan ternak minimal 30%. Sedangkan 24% sampah organik sisanya menggunakan rumput hijau.
Dalam waktu 45 hari, kompos yang sudah padat sesekali diaduk. “Kalau tidak diaduk, kompos jadi padat dan proses pembusukannya jadi lebih lama,” jelasnya.
Setiap kali produksi, Joko bisa menghasilkan pupuk kandang sebanyak 50 ton. Harga terendah pupuk kandang hasil produksinya dijual dengan harga Rp435 per kilogram. Itu artinya, dalam satu kali produksi, Joko bisa meraih omset hingga Rp 21.750.000.
Jika dipotong biaya produksi Rp 15.000.000, Joko mendapat penghasilan bersih Rp6.750.000.
Namun harga tersebut jauh berbeda dengan harga pasar. Saat ini Joko hanya menjual hasil produksi kepada PT Berau Coal. Karena pihak perusahaan menggunakan alat transportasinya sendiri, harganya jadi lebih murah.
Untuk meningkatkan pendapatan, Joko berencana menambah kapasitas produksi pupuk kandang dan menjualnya ke tempat lain. Jika mengikuti harga pasar, harganya bisa mencapai Rp720 per kilogram.
Selama ini, Joko mengaku tidak menemukan kendala berarti selama meproduksi kompos. “Kecuali membutuhkan waktu yang agak lama sampai kompos itu siap dijual,” imbuhnya.
Akan tetapi, Joko tidak berdiam diri begitu saja. Selama memproduksi kompos, Joko juga membuka usaha kecil-kecilan di depan rumahnya, Joko menjual air isi ulang kepada warga di sekitar rumahnya. “Jadi tetap ada penghasilan yang masuk sampai kompos itu terjual,” tandasnya.

Kisah Sukses Produksi Pupuk Kompos

Usaha Joko sebagai produsen kompos ini juga banyak ditiru oleh warga di sekitar rumahnya. Setidaknya ada delapan warga Kampung Tumbit Dayak yang kini ikut memproduksi pupuk kompos.
Kampung Tumbit Dayak merupakan salah satu kampung dampingan PT Berau Coal.
Perusahaan batu bara terbesar di Kabupaten Berau tersebut terlah berkomitmen untuk meningkat kesejahteraan masyarakat di sekitar tambang.
Salah satu upaya itu dilakukan dengan memberdayakan masyarakat, tidak hanya sekadar menerima bantuan, namun bantuan itu juga diharapkan bisa membuat masyarakat sekitar tambang menjadi masyarakat yang mandiri.
Joko adalah salah satu warga yang berhasil memberdayakan keluarga dan warga disekitarnya. Berkat kerja kerasnya itu Joko mendapat penghargaan dari Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (Menkokesra), dan Gelar Karya Pemberdayaan Masyarakat dan CSR Best Practice for Millennium Development Goals.

Baca Selengkapnya ....

Desa Kulwaru dan Mahasiswa UGM Luncurkan Pupuk Kompos Organik

Posted by Pupuk Kompos Abdi Alam 0 komentar
Masyarakat Desa Kulwaru Wetan, Kulon Progo meluncurkan produk pupuk kompos organik dengan memanfaatkan limbah kotoran ternak sapi. 

Citizen6, Yogyakarta Masyarakat Desa Kulwaru Wetan, Kulon Progo meluncurkan produk pupuk kompos organik dengan memanfaatkan limbah kotoran ternak sapi. Bersama dengan mahasiswa Universitas Gadjah Mada yang tergabung dalam International Association of Students in Agricultural and Related Sciences, Local Committee Universitas Gadjah Mada (IAAS LC UGM), masyarakat desa Kulwaru bersemangat untuk merubah kotoran sapi menjadi sebuah produk yang bermanfaat.
Hal ini dikarenakan melimpahnya limbah kotoran sapi yang ada dapat dimanfaatkan dengan baik untuk mendukung kegiatan pertanian organik. Program menuju desa pertanian organik rupanya sudah digiatkan warga dengan mengintegrasikan semua kegiatan pertanian yang ada yaitu dengan memanfaatkan limbah tanaman untuk pakan ternak sapi dan sebaliknya limbah kotoran sapi yang dimanfaatkan untuk pembuatan pupuk kompos organik.
IAAS LC UGM yang didampingi praktisi pertanian yang merupakan alumni mahasiswa UGM, Trisnanto Rahardjo memberikan penyuluhan dan praktik pembuatan pupuk organik dengan memanfaatkan limbah kotoran ternak sapi. Selain limbah kotoran sapi, limbah urine sapi juga bisa dimanfaatkan menjadi pupuk organik cair, pada hari itu juga, IAAS LC UGM dan masyarakat Desa Kulwaru mempraktekkan langsung cara membuat pupuk cair organik dari urine sapi. Harga pupuk cair yang mahal menjadi latar belakang ide untuk membuat pupuk organik cair sendiri untuk dimanfaatkan dan bisa memenuhi kebutuhan para petani di Kulwaru bahkan rencana ke depannya IAAS LC UGM dan masyarakat Desa Kulwaru akan memprogramkan untuk pemasaran pupuk kompos organik dan pupuk organik cair tersebut ke pasaran.    

 
Pembuatan Pupuk Organik Cair Masyarakat Desa Kulwaru bersama IAAS LC UGM (12/4)

Kegiatan dimulai dengan mempraktekkan langsung pembuatan pupuk organik cair dengan mengkombinasikan urine sapi, lengkuas, kunyit, temu ireng, jahe, kencur, brotowali, tetes tebu dan bakteri Saccharomyces cerevisiae. Lalu di fermentasi selama dua minggu. Acara dilanjutkan dengan launching pupuk kompos organik secara simbolis yang telah dibuat sebelumnya oleh IAAS LC UGM dengan warga desa Kulwaru.

“Pembuatan pupuk organik kerja sama antara mahasiswa UGM dan masyarakat Desa Kulwaru membuktikan kerjasama dengan dunia pendidikan bisa diaplikasikan secara langsung di masyarakat dengan menciptakan produk pupuk organik yang berkualitas”, ungkap Imam Hudoyo, Kepala Desa Kulwaru.
Travelia Febrin, sebagai Local Committee Director IAAS LC UGM mengungkapkan “Semoga geliat penggunaan pupuk kompos organik maupun pupuk organik cair memberikan manfaat yang banyak bagi masyarakat terutama untuk menjadikan Desa Kulwaru sebagai desa percontohan pertanian organik di Daerah Istimewa Yogyakarta sehingga memberikan manfaat bagi masyarakat, bukan hanya saat ini saja, namun untuk jangka panjang”.

Penulis:
Hendy Dwi Warmiko (UGM)

Baca Selengkapnya ....

MEMBUAT PUPUK KOMPOS DARI KOTORAN SAPI

Posted by Pupuk Kompos Abdi Alam Kamis, 21 Agustus 2014 0 komentar
 

Pupuk kompos merupakan dekomposisi bahan – bahan organik atau proses perombakan senyawa yang komplek menjadi senyawa yang sederhana dengan bantuan mikroorganisme. Bahan dasar pembuatan kompos ini adalah kotoran sapi dan bahan seperti serbuk gergaji atau sekam, jerami padi dll, yang didekomposisi dengan bahan pemacu mikroorganisme dalam tanah (misalnya stardec atau bahan sejenis) ditambah dengan bahan-bahan untuk memperkaya kandungan kompos, selain ditambah serbuk gergaji, atau sekam, jerami padi dapat juga ditambahkan abu dan kalsit/kapur. Kotoran sapi dipilih karena selain tersedia banyak di petani/peternak juga memiliki kandungan nitrogen dan potassium, di samping itu kotoran sapi merupakan kotoran ternak yang baik untuk kompos.

Pemanfaatan limbah peternakan (kotoran ternak) merupakan salah satu alternatif yang sangat tepat untuk mengatasi kelangkaan dan naiknya harga pupuk. Pemanfaatan kotoran ternak sebagai pupuk sudah dilakukan petani secara optimal di daerah-daerah sentra produk sayuran. Sayangnya masih ada kotoran ternak tertumpuk di sekitar kandang dan belum banyak dimanfaatkan sebagai sumber pupuk. Keluhan petani saat terjadi kelangkaan atau mahalnya harga pupuk non organik (kimia) dapat diatasi dengan menggiatkan kembali pembuatan dan pemanfaatan pupuk kompos.

Proses
Prinsip yang digunakan dalam pembuatan kompos adalah proses pengubahan limbah organik menjadi pupuk organik melalui aktivitas biologis pada kondisi yang terkontrol. 
Bahan yang diperlukan adalah: 
  1. kotoran sapi : 80 – 83%, 
  2. serbuk gergaji (bisa sekam, jerami padi dll) : 
  3. 5%, bahan pemacu mikroorganisame :
  4. 0.25%, abu sekam : 
  5. 10% dan 
  6. kalsit/kapur : 2%, 
  7. dan juga boleh menggunakan bahan-bahan yang lain asalkan kotoran sapi minimal 40%, serta kotoran ayam 25 %
Tempat pembuatan adalah sebidang tempat beralas tanah dan dibagi menjadi 4 bagian (lokasi 1, 2, 3, 4) sesuai dengan ukuran yang dibutuhkan dan tempat tersebut ternaungi agar pupuk tidak terkena sinar matahari dan air hujan secara langsung. Prosesing pembuatannya adalah pertama kotoran sapi (fases dan urine) diambil dari kandang dan ditiriskan selama satu minggu untuk mendapatkan kadar air mencapai ¬+ 60%, kemudian kotoran sapi yang sudah ditiriskan tersebut dipindahkan ke lokasi 1 tempat pembuatan kompos dan diberi serbuk gergaji atau bahan yang sejenis seperti sekam, jerami padi dll, serta abu, kalsit/kapur dan stardec sesuai dosis, selanjutnya seluruh bahan campuran diaduk secara merata. 
Setelah satu minggu di lokasi 1, tumpukan dipindahkan ke lokasi 2 dengan cara diaduk/dibalik secara merata untuk menambah suplai oksigen dan meningkatkan homogenitas bahan. Pada tahap ini diharapkan terjadi peningkatan suhu hingga mencapai 70 derajat celcius untuk mematikan pertumbuhan biji gulma sehingga kompos yang dihasilkan dapat bebas dari biji gulma.


http://www.sinartani.com/mimbarpenyuluh/membuat-pupuk-kompos-kotoran-sapi-1225076328.htm

Baca Selengkapnya ....

Kotoran Sapi Pun Menjadi Duit

Posted by Pupuk Kompos Abdi Alam 0 komentar
Fajar Marta

KOMPAS.com — Selama bertahun-tahun, Ngatijan (56) merasa tidak nyaman dengan tumpukan kotoran sapi yang tidak terpakai di kampungnya di Dusun Margaraya, Desa Lurung, Kecamatan Natar, Lampung Selatan, Provinsi Lampung.
Onggokan kotoran sapi di sana kian hari kian menumpuk mengingat hampir setiap warga di kampung tersebut memiliki sapi untuk membajak sawah.
Pada tahun 2004, lelaki kelahiran Daerah Istimewa Yogyakarta ini pun mencoba memanfaatkan kotoran sapi yang terserak di kampungnya untuk membuat pupuk organik.
Awalnya, usaha Ngatijan jatuh bangun. Maklum, tidak mudah mendapatkan pasar pupuk organik di tengah masih populernya pupuk kimia dan kuatnya permainan mafia pupuk.
Mula-mula ia hanya bisa memproduksi puluhan ton per bulan. Namun, dengan keuletan dan kerja keras, saat ini Ngatijan bisa memproduksi pupuk organik hingga 500 ton per bulan.
Tenaga kerjanya yang awalnya hanya 5 orang kini berkembang menjadi 20 orang. Dengan harga pupuk organik sebesar Rp 500 per kilogram, omzet Ngatijan bisa mencapai Rp 250 juta per bulan.
Kejelian dan kerja kerasnya memproduksi pupuk organik tidak hanya menguntungkan dirinya sendiri. Sekitar 500 petani yang tinggal di kampungnya dan kampung sekitarnya kini juga bisa menangguk tambahan penghasilan dari kotoran sapi.
Ngatijan tidak mengambil kotoran sapi itu cuma-cuma, tetapi menghargainya dengan uang. Kotoran sapi yang sebelumnya dianggap masyarakat kurang bermanfaat ternyata bisa menjadi duit di tangan Ngatijan.
Meskipun tidak besar, tambahan penghasilan tersebut cukup untuk menambah modal usaha tani dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat kampung.
Usaha pupuk organik Ngatijan melambung ketika pemerintah mengeluarkan program Bantuan Pupuk Pemerintah (BPP) untuk petani miskin tahun 2009. Pabrik dan distributor pupuk besar yang diminta menyalurkan BPP, seperti PT Pertani dan PT Sang Hyang Seri, pun bekerja sama dengan produsen pupuk-pupuk organik skala menengah dan kecil.
Suami dari Sudarti ini pun menangkap peluang tersebut dengan ikut serta menjadi pemasok pupuk organik dari kotoran sapi.
Proses produksi pupuk organik dimulai dengan mengumpulkan bahan baku berupa kotoran sapi dari para penduduk. Untuk meningkatkan motivasi dan semangat petani mengumpulkan dan mengeringkan kotoran sapi, Ngatijan biasanya membayar di muka atau mengijon kotoran sapi tersebut.
Harga kotoran sapi yang telah dikeringkan selama seminggu sekitar Rp 40 per kilogram. Jadi, dengan dua sapi, satu keluarga petani biasanya bisa memperoleh upah sekitar Rp 50.000 per bulan.
Selanjutnya, kotoran sapi yang telah kering diangkut dari rumah-rumah penduduk ke tempat produksi, yang terletak di areal persawahan, tak jauh dari rumah Ngatijan.
Proses pupuk organik
Untuk membuat pupuk organik, kotoran sapi tersebut dicampur bahan lain dengan komposisi: kotoran sapi sebesar 80-83 persen, serbuk gergaji 5 persen, bahan pemacu mikroorganisme 0,25 persen, abu sekam 10 persen, dan kapur 2 persen.
Campuran ini kemudian dibiarkan selama satu minggu sembari dibolak-balik untuk menjaga kadar oksigen. Setelah selama satu minggu, pupuk organik biasanya telah matang dengan warna pupuk coklat kehitaman bertekstur remah dan tidak berbau.
Langkah berikutnya, pupuk diayak atau disaring untuk mendapatkan bentuk yang seragam serta memisahkan dari bahan yang tidak diharapkan, seperti batu, potongan kayu, atau tali rafia, sehingga pupuk organik yang dihasilkan benar-benar berkualitas.
Pupuk organik selanjutnya dimasukkan ke dalam karung kemasan 50 kilogram yang telah disediakan dan diberi label oleh distributor sebagai pupuk bantuan dari pemerintah.
Pupuk organik yang telah dikemas tersebut kemudian diambil oleh distributor pupuk untuk disalurkan secara gratis kepada para petani sebagai pengganti pupuk kimia di kawasan Lampung dan sekitarnya.
Pria yang hanya lulusan sekolah dasar ini mengatakan, keberhasilan usahanya tidak terlepas dari bantuan Swamitra, lembaga keuangan mikro yang dibentuk koperasi dengan bantuan dana dan manajemen dari Bukopin.
Dengan pinjaman dana dari Swamitra, Ngatijan bisa membeli bahan baku kotoran sapi dari petani dalam jumlah besar dan membangun tempat produksi serta membeli mesin penggiling. Dengan bantuan Swamitra pula, Ngatijan tidak sampai terjerat tengkulak yang biasanya mematok bunga selangit.
Ke depan, bapak enam anak ini berencana meningkatkan kapasitas produksinya dengan menambah mesin penggiling dan memperluas areal produksi serta menambah tenaga kerja. Harapannya, ia bisa memproduksi sekitar 1.000 hingga 2.000 ton setiap bulan agar bisa memenuhi permintaan yang selama ini tidak bisa dipenuhinya.
Maklum, Ngatijan juga ingin lebih banyak menjual pupuk organik ke pasar komersial. Menurut dia, pupuk organik yang dijual secara komersial harganya bisa lebih tinggi dibandingkan dengan dijual sebagai pupuk bantuan pemerintah.
Jika produksinya meningkat, Ngatijan tentu juga bisa lebih banyak menggandeng petani di kampung-kampung sekitarnya untuk dibeli kotoran sapinya sehingga lebih banyak lagi kesejahteraan petani yang terangkat.



Baca Selengkapnya ....