2010, AGP Hibah Pinjam Sapi Ke Peternak Lokal

Posted by Pupuk Kompos Abdi Alam Rabu, 16 April 2014 0 komentar
Penyeerahan_Sapi_Hibah_PinjamPengetatan impor sapi potong pada 2010, membuat perusahaan importir sapi potong berskala nasional PT Agro Giri Perkasa (AGP) mengalami kesulitan. Namun ditengah himpitan quota yang terus berkurang, AGP tetap berusaha memaksimalkan jumlah yang ada untuk mendukung program pemerintah.
Bentuk  dukungan tersebut juga disertai dengan wujud kepedulian AGP dengan tetap memperhatikan peternak lokal. Bekerjasama dengan mitra usahanya PT Juang Jaya Abdi Alam (JJAA), AGP memberikan pelatihan kepada tiga kelompok peternak di desa Sidowaluyo, Siring Jaha dan Budidaya yang berada di wilayah kecamatan Sidomulyo, Kabupaten Lampung Selatan. Beragam materi pelatihan dari tenaga ahli perusahaan dan akademisi peternakan Unila dan IPB ini meliputi pengenalan sapi jenis Brahman Cross, tingkah laku sapi, konsentrat dan pakan ternak, sistem perkandangan hingga manajemen limbah dan praktek lapangan di Pusat Pemberdayaan Peternak Pembibit Sapi Potong (P4SP) PT JJAA.
Banteng_copyTidak hanya sekedar pelatihan, Presiden Direktur PT Agro Giri Perkasa, Dicky Adiwoso mengatakan, AGP juga merealisasikan program lanjutan dari pelatihan tersebut yaitu hibah pinjam sapi bunting untuk peternak kecamatan Sidomulyo yang telah mengikuti pelatihan.     “Kami telah mendistribusikan 38 ekor sapi betina bunting senilai hampir setengah milyar.” tutur Dicky Adiwoso.
Para peternak yang mengikuti pelatihan tersebut merasakan banyak manfaat, selain meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan, mereka juga berkesempatan untuk mendapatkan peluang usaha dan pendapatan yang baru.  “ Kemitraan ini merupakan bentuk komitmen perusahaan untuk meningkatkan kesejahteraan petani melalui penggiatan bibit sapi lokal dan dukungan terhadap pemerintah dalam program swasembada daging sapi 2014.” terang Dicky Adiwoso di ruang kerjanya.
Pelatihan_TeoriSecara teknis, AGP memberikan bantuan pinjaman sapi betina bunting jenis Brahman Cross Australia berusia 5-7 bulan sebanyak 38 ekor untuk tiga kelompok peternak. Secara rinci, kelompok peternak Desa Budidaya menerima 8 ekor, kelompok peternak Desa Siring Jaha 10 ekor sapi, dan kelompok peternak Desa Sidowaluyo 20 ekor sapi. Sapi betina bunting tersebut akan dipinjamkan kepada para peternak sampai 3 kali kelahiran, hingga akhirnya dikembalikan lagi ke perusahaan dan anak sapi menjadi milik peternak. Selama proses pemeliharaan, peternak diberikan pendampingan intensif selama satu bulan dan kunjungan rutin secara berkala untuk memeriksa kondisi kesehatan sapi.
Dalam perkembangannya hingga akhir bulan november 2010, dari 10 ekor sapi kelompok peternak Desa Siring Jaha, 3 ekor diantaranya telah melahirkan. Sementara kelompok peternak Desa Sidowaluyo, 11 ekor sapi diantaranya telah melahirkan dari total 20 ekor. Sedangkan untuk kelompok peternak Desa Budidaya belum satu ekor sapi pun yang melahirkan.
Praktek_Lapangan
Ditegaskan Dicky Adiwoso, di tahun 2011 ini, AGP berharap mampu menunjang pertumbuhan populasi sapi nasional dengan program-program kemitraan dengan masyarakat dan pemerintah. Lebih utamanya, AGP menginginkan agar pemberdayaan masyarakat peternak sapi dalam skala kecil lebih bisa mandiri dalam mengembangkan usaha budidaya peternakan.




Telah diterbitkan pada hari Jumat, 31 Desember 2010 di sejumlah koran harian di Lampung
(Lampung Post, Radar Lampung dan Koran Lampung)

Baca Selengkapnya ....

Tinggi, Daya Saing Penggemukan Sapi

Posted by Pupuk Kompos Abdi Alam 0 komentar
http://cetak.kompas.com/read/2011/02/05/04030556/tinggi.daya.saing..penggemukan.sapi

Daya Saing Penggemukan SapiJakarta, Kompas - Usaha penggemukan sapi di Indonesia memiliki daya saing tinggi dibandingkan dengan Australia. Selain lebih murah, berat badan sapi bakalan yang digemukkan di Indonesia juga tumbuh lebih cepat.
Hal itu terungkap dalam kunjungan lapangan Wakil Menteri Pertanian Bayu Krisnamurthi, Selasa lalu, ke area peternakan sapi seluas 160 hektar di Lampung, milik PT Juang Jaya Abdi Alam (JJAA). PT JJAA merupakan perusahaan multinasional dengan kepemilikan saham CPC Australia 30 persen dan 50 persen milik PT Agro Giri Perkasa (AGP) dan PT Guna Prima Dharma Abadi (GPDA).
Menurut Bayu, usaha penggemukan sapi di Indonesia sangat prospektif. Dari paparan terungkap bahwa biaya produksi penggemukan sapi di Indonesia lebih murah dan lebih cepat dibandingkan Australia. ”Tentu ini peluang bagi kita,” kata Bayu, Jumat (4/2) di Jakarta.
Wakil Direktur Utama PT AGP Greg Pankhurst menyatakan, usaha penggemukan sapi di Indonesia sangat potensial. Biaya produksi penggemukan sapi dari berat awal maksimal 350 kilogram per ekor menjadi 500 kg atau mencapai berat sapi siap potong hanya Rp 15.000-Rp 17.000 per ekor per hari. Bandingkan dengan di Australia yang mencapai Rp 23.000 per ekor per hari.
Untuk mencapai beras sapi ideal siap potong 450-500 kg butuh waktu 120 hari. Dengan begitu, untuk mendapatkan tambahan berat sapi sekitar 150 kg dalam waktu 120 hari butuh biaya produksi Rp 1,9 juta per ekor.
Kondisi sebaliknya terjadi pada usaha pembibitan sapi dan penyediaan bibit sapi bakalan. Dalam usaha pembibitan dan pembesaran hingga sapi bakalan, Indonesia kalah kompetitif dibandingkan dengan Australia.
Untuk menghasilkan sapi bakalan dengan berat maksimal 350 kg per ekor di Indonesia, dibutuhkan tambahan biaya produksi Rp 6,5 juta dibandingkan Australia. ”Di Australia, sapi begitu lahir dilepas. Di sini tidak bisa. Sapi harus dikandangkan dengan pola intensif,” katanya.
Tambahan biaya Rp 6,5 juta per ekor baru menghitung biaya pakan. Belum tenaga kerja. Saking mahalnya biaya pembibitan sapi di Indonesia, kata Greg, untuk menghasilkan pedet—anak sapi—dengan harga jual Rp 3,5 juta per ekor, butuh modal produksi hingga Rp 7 juta.
Dirut PT AGP Adikelana Adiwoso menyatakan, meski usaha peternakan sapi di luar penggemukan kalah intensif, masih ada peluang bagi Indonesia untuk menandingi Australia, yaitu dengan memanfaatkan lahan perkebunan sawit atau karet untuk area penggembalaan sapi. ”Risikonya memang soal keamanan karena tidak ada jaminan sapi yang digembalakan di perkebunan sawit tidak dicuri,” katanya.
Usaha penggemukan sapi di Indonesia potensial. Tahun 2010 kebutuhan daging sapi nasional mencapai 496.780 ton, setara Rp 29,8 triliun, dengan asumsi harga per kg daging Rp 60.000. Potensi peningkatan konsumsi daging sapi besar karena pada 2011 diproyeksikan konsumsi per kapita daging sapi Indonesia baru 2,10 kg per tahun.
Bayu menyatakan, dengan tambahan biaya produksi Rp 6,5 juta per ekor, untuk memenuhi kebutuhan daging sapi dalam negeri agar Indonesia mencapai pengakuan swasembada, butuh dana setara Rp 4,9 triliun per tahun.
Dana itu setara untuk memproduksi 750.000 ekor sapi yang selama ini diimpor, baik dalam bentuk bakalan maupun daging dan jeroan. Melihat peluang dan potensi yang ada, ke depan tidak ada salahnya bila Indonesia mengubah pola produksi daging sapi berorientasi ekspor. (MAS)

logo_kompas

Baca Selengkapnya ....

GAPPSI Mendukung Pembibitan di Indonesia

Posted by Pupuk Kompos Abdi Alam 0 komentar
Pedet 













Pemerintah pusat menargetkan pada 2014 Indonesia bisa mencapai swasembada daging sapi dengan tingkat produksi mencapai 200 ribu ekor selama kurun waktu lima tahun dari  2009 sampai 2014. Berdasarkan data ditjen peternakan, kementerian pertanian RI, saat ini kemampuan suplai daging sapi dalam negeri baru dua pertiga dari total kebutuhan konsumsi yang mencapai 1,7 juta ekor per tahun. Untuk memenuhi sisa sepertiga tersebut dilakukan impor sapi bakalan hingga 500 ribu ekor dan impor daging sapi yang berkisar antara 70 ribu ton pertahun.
Logo_GAPPSIApabila Indonesia terlalu mengandalkan impor sapi bakalan, maka Indonesia akan sulit untuk mencapai swasembada tersebut. Untuk itulah, GAPPSI (Gabungan Perusahaan Pembibitan Sapi Potong Indonesia) yang memiliki visi dan misi untuk menjadi mitra pemerintah dalam meningkatkan populasi sapi potong di Indonesia, menggalakkan pembibitan dalam rangka mewujudkan program swasembada daging sapi. GAPPSI melihat bahwa target 2014 merupakan sebuah peluang dan tantangan yang dapat menghasilkan nilai tukar yang tidak hanya menguntungkan bagi peternak, tapi juga pembibit sapi. Swasembada mutlak diraih sebagai satu bagian kecil dari langkah besar menuju kemakmuran dan kehormatan bangsa Indonesia.
Ketua Gabungan Perusahaan Pembibitan Sapi Potong Indonesia (GAPPSI), Dicky Adikelana Adiwoso mengatakan, upaya GAPPSI tersebut dimulai pada pertengahan tahun 2010, dimana GAPPSI menjadi pelopor terciptanya perjanjian kerjasama pembibitan antara perusahaan-perusahaan eksportir sapi potong di Australia yang selama ini memasok sapi bakalan, dengan Indonesia yang ditanda tangani oleh Menteri Pertanian RI, DR. Ir. Suswono, MMA.
“Tidak cukup berhenti sampai disitu, GAPPSI juga telah membuka pusat-pusat pelatihan pembibitan dan pemberdayaan bagi para peternak lokal di daerah­-daerah operasi perusahaan yang menjadi anggotanya.” kata Dicky. Ke depan lanjutnya, GAPPSI akan terus berusaha menarik pengusaha asing agar dapat bekerja sama dengan pengusaha Indonesia untuk memberi bantuan bibit sapi yang dapat di kembangkan peternak lokal.
Saat ini GAPPSI beranggotakan 9 perusahaan peternakan nasional yaitu: PT Berdikari United Livestock, PT Santosa Agrindo, PT Lembu Jantan Perkasa, PT Agro Giri Perkasa,   PT Juang Jaya Abdi Alam, PT Widodo Makmur, PT Kadila Lestari Jaya, PT Austasia Stockfeed, dan PT Lembu Betina Subur, yang mengimportir sapi potong jenis Brahman Cross dari Australia.

Telah diterbitkan pada hari Kamis, 30 Desember 2010 di sejumlah koran harian di Lampung
(Lampung Post, Radar Lampung, Tribun Lampung dan Koran Lampung)


Baca Selengkapnya ....

Swasembada Daging 2014 Butuh Rp. 4,9 triliun

Posted by Pupuk Kompos Abdi Alam 0 komentar
Oleh Erwin Tambunan
Published On: 03 February 2011

 Untuk_Swasembada_daging_2014











 http://www.bisnis.com/industri/agroindustri/11067-swasembada-daging-2014-butuh-rp49-triliun
LAMPUNG: Pemerintah membutuhkan biaya sebesar Rp4,9 triliun untuk mencapai target swasembada daging pada 2014, jika pemerintah ingin mencapai target mengadakan 750.000 ekor sapi.

Penegasan itu disampaikan Wakil Menteri Pertanian Bayu Krisnamurthi seusai berkunjung ke pusat peternakan sapi PT Agro Giri Perkasa di Lampung. “Dalam perhitungan untuk mencapai berat 330 kg saja membutuhkan dana tambahan sebesar Rp6,5 juta per ekor dikalikan saja dengan 750.000 ekor,” katanya hari ini.

Sebagaimana diketahui pemerintah merencanakan mendatangkan 500.000 ekor sapi dan mengimpor 50.000 ton daging sapi yang setara dengan 250.000 ekor sapi, sehingga total target swasembada sapi pemerintah pada 2014 adalah 750.000 ekor sapi.
Populasi ternak sapi sekarang tercatat 12,7 juta ekor per tahun, sedangkan kebutuhan nasional sekitar 13,2 juta ekor, sehingga untuk menutupi kekurangan itu harus impor.

Dana tambahan sebesar Rp6,5 juta itu, katanya, berasal dari biaya pakannya saja sejak lahir.“Butuh waktu selama 28 bulan agar sapi mencapai berat 330 kg. Biaya pakannya saja per hari sekitar Rp20.000, sehingga ketemu biaya tambahan pemeliharaan sapi Rp6,5 juta per ekor.”

Biaya tambahan itu, lanjutnya, belum termasuk ongkos petugas yang menjaga ternak selama 28 bulan. “Hanya sebatas biaya pakan, belum termasuk biaya kesehatan dan membangun infrastruktur.”

Ongkos swasembada sapi yang begitu besar jika pemerintah ingin mencapai target swasembada daging yang disesuaikan dengan sapi impor Australia. “Ongkos pemeliharaan yang begitu besar memang perlu diperhitungkan kembali.”

Presdir PT. AGP Adikelana Adiwoso menjelaskan pembelian harga satu ekor sapi berkisar antara Rp8,4 huta hingga Rp9 juta. Perusahaan ini membeli bakalan sapi di Australia yang masing-masing beratnya mencapai 550 kg. “Rata-rata berat sapi yang dijual di sana memang Rp350 kg. Di sini digemukkan hingga mencapai 450 kg hingga 500 kg.”

Presdir PT. AGP Adikelana Adiwoso, menyarankan agar pemerintah membimbing peternak sapi memanfaatkan areal perkebunan kelapa sawit di Indonesia yang mencapai luas 7 juta ha. ”Potensi tingkat penyebaran adalah 2 ekor per hektare.”

Presdir PT. AGP Adikelana Adiwoso, mengatakan pemerintah harga sapi induk sebesar Rp7,4 juta hingga Rp9 juta per ekor di Australia yang beratnya diperkirakan mencapai 350 Kg yang kemudian digemukkan hingga mencapai 500 kg.(yn)

Baca Selengkapnya ....

Pemanfaatan Limbah Ternak Sebagai Sumber Pupuk Organik

Posted by Pupuk Kompos Abdi Alam 0 komentar
Oleh: Nofri Amin - Widyaiswara Pertama

Ternak dan Permasalahannya

  1. Peningkatan jumlah penduduk menyebabkan permintaan pangan selalu bertambah. 
  2. Peningkatan permintaan hasil ternak mendorong meningkatnya populasi ternak dan produktivitasnya.
  3. Sistim pemeliharaan dari ekstensif menjadi intensif.
  4. Peningkatan usaha peternakan selain memberikan dampak positif yaitu menghasilkan produk utama seperti daging, susu, dan telur juga memberikan dampak negatif karena usaha peternakan pasti menghasilkan limbah.
  5. Limbah ternak merupakan sisa buangan dari suatu kegiatan usaha meliputi : limbah padat dan cair seperti feses,urine dan sisa pakan. 
  6. Semakin besar skala usaha, limbah yang dihasilkan semakin banyak.



Ekses Negatif Limbah Ternak


  1. Pencemaran lingkungan 
  2. Bau yang kurang sedap.
  3. Tidak enak dipandang.
  4. Dapat menjadi vektor penyakit.


Masalah Lingkungan Hidup


  1. Bukan hanya urusan pabrik kimia.
  2. Bukan hanya industri
  3. Usaha peternakan juga tidak terkecuali. 
  4. Penumpukan limbah ternak akan semakin buruk jika tidak dilakukan pengolahan.




Sebagai gambaran seekor sapi bisa menghasilkan 30 kg limbah feses dan urine setiap hari, Bisa dibayangkan bila memelihara 100 – 1000 ekor hasil limbah 3 – 30 ton tiap hari.

Upaya Mengurangi Resiko Pencemarahan Yang Praktis dan Murah

  1. Memanfaatkan limbah kotoran. 
  2. Kotoran ternak diubah menjadi kompos/ pupuk organik padat dan cair. 
  3. Kotoran ternak ternak sebagai sumber energi (biogas dan bio arang)

Keuntungan Dari Pengolahan Limbah
  1. Mengurangi pencemaran lingkungan 
  2. Diperoleh keuntungan dari pemanfaatannya.

Pupuk Organik Dari Limbah Pertanian dan Kotoran Ternak

  1. Pupuk memegang peranan penting dalam budidaya tanaman. 
  2. Kondisi lahan pertanian telah banyak mengalami kerusakan dan penurunan kesuburan.
  3. Pembuatan pupuk organik merupakan salah satu solusi penanganan limbah yang bijaksana karena akan memberikan keuntungan bagi tanah, tanaman dan lingkungan.
  4. Menciptakan gaya hidup baru yaitu kembali ke alam dengan memanfaatkan hasil alam yang sebelumnya terbuang untuk dikembalikan lagi ke alam dalam bentuk yang lebih bermanfaat.
  5. Kompos sangat menguntungkan, memperbaiki produktivitas, kesuburan tanah, murah, mudah dapat dibuat sendiri.
  6. Pupuk organik bisa dikomersiilkan sehingga bisa meningkatkan pendapatan petani.

Apa Itu Pupuk Organik ?

  1. Pupuk organik (kompos) adalah pupuk yang sebagian besar atau seluruhnya terdiri atas bahan organik yang berasal dari limbah tanaman, kotoran ternak yang telah mengalami dekomposisi. 
  2. Pupuk organik dari limbah tanaman maupun pupuk kandang mengandung unsur hara baik mikro maupun makro yang cukup komplit.Di lingkungan alam, kompos dapat terjadi dengan sedirinya, dedaunan, kotoran ternak dan sampah akan lapuk karena ada kerja sama antara mikro organisme dengan cuaca dalam waktu cukup lama.

Keunggulan Pupuk Organik




Potensi Limbah Peternakan


  1. Limbah berupa feses dan urine bisa bemanfaatkan sebagai bahan baku pupuk organik.
  2. Hasil pengamatan lapang limbah feses dan urine sapi dikandangkan sepanjang hari tiap hari mencapai 30 kg/ekor
  3. Ternak sapi yang dikandangkan waktu malam saja bisa terkumpul 5 kg/ekor.

Kandungan Unsur Hara Pupuk Kandang





Bahan Organik Sebagai Bahan Baku Produk




Teknik Pembuatan Kompos

Pembuatan kompos pada prinsipnya cukup mudah
  1. Bahan organik (dedaunan, limbah pertanian, kotoran ternak) dibiarkan hingga melapuk.
  2. Menambah aktivator (starter) guna mempercepat proses pengomposan.
  3. Peralatan sederhana (cangkul, sekop, golok, ember)




Syarat Pembuatan Kompos


  1. Bahan jangan terlalu besar dan juga terlalu lembut.
  2. Suhu berkisar 40° C – 60° C
  3. Tinggi tumpukan 1 - 1,5 m
  4. Kelembaban tidak terlalu basah dan kering
  5. Tempat pembuatan kompos harus disediakan
  6. Naungan dan penutup untuk mencegah masuknya air hujan dan sinar   matahari
  7. Aktivator (starter) mempercepat proses pengomposan Pengadukan guna memberikan ruang udara, juga meratakan


Pembuatan Pupuk Organik Secara Tradisional


  1. Siapkan semua bahan
  2. Cacah bahan organik
  3. Campur cacahan dengan kotoran ternak
  4. Tumpuk campuran bahan setinggi 1 m
  5. Tancapkan bambu yang telah diberi lubang
  6. Dibalik setiap minggu
  7. Bila terlalu kering disiram kembali
  8. Setelah 2 bulan kompos matang.

Pembuatan Pupuk Organik Dengan Aktivator

  1. Cacah limbah pertanian atau dedaunan agar bentuknya lebih kecil.
  2. Campurkan pupuk kandang,sekam,serbuk gergaji,.
  3. Tambahkan air sehingga campuran lembab.
  4. Campur aktivator (starter) Probion 2,5 kg,Urea 2,5 kg, TSP 2,5 kg pada setiap 1 ton bahan diaduk sampai merata.
  5. Bahan kompos yang telah dicampur ditempatkan pada tempat pengomposan yang telah disediakan.
  6. Tahap pertama ketinggian tumpukan sekitar 20 cm percikan air kemudian taburkan starter.
  7. Selanjutnya dilakukan seperti tahap pertama sampai ketinggian 1 – 1,5 m.
  8. Tutup dengan terpal untuk menjaga kelembaban
  9. Lakukan pembalikan setiap minggu bila kelembaban kurang tambahkan air.
  10. Selama proses pengomposan dari hari pertama suhu meningkat mencapai 60°C dan akan menurun bila proses pelapukan selesai.

Tanda-tanda Kompos Yang Sudah Matang

  1. Jika diraba suhu kompos dingin
  2. Tidak mengeluarkan bau busuk.
  3. Bentuk fisik menyerupai tanah warna coklat kehitaman.
  4. Struktur remah dan tidak menggumpal.
  5. pH kompos 6,5 – 7,5.



Pengepakan dan Penyimpanan


  1. Kompos yang sudah jadi apabila tidak segera dipergunakan sebaiknya disimpan tempat yang aman, tidak kena air dan sinar matahari langsung.
  2. Kompos dikemas dalam karung, dan disimpan secara bertumpukan untuk menghindari penguapan atau hilangnya nitrogen (N).
  3. Untuk memperoleh hasil yang berkualitas baik, perlu dilakukan pengayakan sebelum pengemasan.

Pembuatan Kompos Dengan Bantuan Cacing
  1. Mempersiapkan tempat seperti kotak kayu, kotak plastik atau lubang yang digali..Ukuran disesuaikan banyaknya pembuatan kompos. Contoh ukuran kotak kayu 100x100x20 cm.
  2. Mempersiapkan cacing, jenis cacing Lumbricus rubellus, Pheretima asiatica dan Eisenia foetida.
  3. Mempersiapkan bahan, limbah dedaunan, kotoran ternak, hindari kontaminasi sabun, cuka, garam.

Langkah Pembuatan


  1. Cacah bahan pembuat kompos, campurkan kotoran ternak diamkan ditempat terlindung untuk proses fermentasi.
  2. Masukkan bahan kompos yang telah dipersiapkan setinggi 10 -15 cm.
  3. Bahan yang ditabur sebaiknya jangan memadat
  4. Untuk tempat berupa lubang pada tanah perlu naungan agar terlindung dari sinar matahari dan hujan.
  5. Masukkan cacing setiap tempat kira-kira 100 gram.
  6. Kompos akan jadi dalam waktu 15-21 hari terlihat munculnya kotoran cacing.
  7. Pisahkan cacing dengan hati-hati .kumpulkan ke dalam suatu wadah untuk digunakan kembali.
  8. Kompos yang sudah jadi dikemas atau langsung digunakan untuk memupuk tanaman.


Pembuatan Pupuk Cair Organik Berasal Dari Urine


  1. Tampung urine dari kandang
  2. Lakukan penyaringan dan tuangkan dalam drum.
  3. Campurkan air cucian beras dan tambahkan pupuk cair.
  4. Aduk hingga merata
  5. Pasang aerator selama 3 minggu
  6. Lepaskan aerator kemudian didiamkan hingga mengendap.
  7. Diambil larutan yang jernih kemudian disaring.
  8. Pupuk siap dikemas.


Pembuatan Pupuk Cair Organik Berasal Dari Feses




Alur Pembuatan Pupuk Organik




Penutup
  1. Dengan termanfaatkannya limbah peternakan diperoleh dua keuntungan yaitu mengurangi resiko pencemaran lingkungan dan produk yang dihasilkan dapat dipergunakan sebagai pupuk organik
  2. Diharapkan dengan meningkatnya kemampuan peternak dalam mengelola limbah peternakan dapat mengatasi kelangkaan persediaan pupuk.

Baca Selengkapnya ....