PAKET Turut Atasi Kelangkaan Pupuk

Posted by Pupuk Kompos Abdi Alam Jumat, 20 Juni 2014 0 komentar
Lampung Utara, 9 April 2010
Berawal dari tingginya ketergantungan kepada pupuk kimia bersubsidi yang dialami sebagian petani desa Sumber Arum, Kecamatan Kotabumi, Lampung Utara, muncul inisiatif untuk mengembangkan pupuk alternatif dengan memanfaatkan sampah rumah tangga dan kotoran ternak. Berbekal hasil pelatihan kelompok tani dan rembug para tokoh masyarakat, tercapailah kesepakatan membuat pupuk kompos sederhana. Namun, usaha tersebut mengalami kendala akibat minimnya peralatan yang terbatas dan konvensional.
Pada tahun 2008, Kabupaten Lampung Utara mendapatkan Program Penanggulangan Kemiskinan Terpadu (PAKET) sebagai kelanjutan dari program PNPM Mandiri Perkotaan atau P2KP, yang masuk sejak tahun 2006. Gayung pun bersambut. Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Perindag) Kabupaten Lampung Utara memberi peluang kerja sama, dalam upaya ekspansipasi program pupuk organik. Maka terbentuklah panitia kemitraan (Pakem) Sumber Makmur hasil kolaborasi antara BKM Sejahtera dengan Dinas Perindag Kabupaten Lampung Utara.

Dari dana PAKET sebesar Rp75 juta serta swadaya masyarakat sebesar Rp26.765.000, dibangun satu unit pabrik pengolahan pupuk organik berukuran 6 meter x 7 meter, dilengkapi peralatan pendukung, seperti hand traktor dan timbangan. Sedangkan Dinas Perindag memberikan bantuan berupa satu unit mesin pengolahan pupuk dan pelatihan pembuatan pupuk organik.

Pada Oktober 2008 digelar pelatihan pengolahan pupuk organik yang langsung ditangani oleh Dinas Perindag Kabupaten Lampung Utara. Hasil pelatihan ini kemudian dijadikan motivasi oleh masyarakat Desa Sumber Arum untuk membuat gudang pengolahan pupuk organik secara gotong royong.

Setelah pembangunan gudang pengolahan pupuk selesai, Pakem Sumber Makmur mulai mengolah pupuk organik secara mandiri. Bahan baku pupuk didapatkan dari sumber daya alam yang ada di Desa Sumber Arum, seperti kotoran hewan dan serbuk gergaji. Untuk kotoran sapi dibeli seharga Rp200 per kilogram dan kotoran ayam seharga Rp. 600 per kilogram.

Menurut Ketua Kelompok Tani Ir. Samsul Bahri, selaku instruktur pelatihan pupuk, cara pengolahan pupuk adalah sebagai berikut.

Pertama, semua bahan dicampur menjadi satu dengan perbandingan 70% kotoran sapi, 20% kotoran ayam dan 10% serbuk gergaji.

Kedua, bahan campuran tersebut difermentasi selama sekitar 2 minggu bersama dengan campuran dolomyte, EM4, gula pasir dan ragi.

Ketiga, setelah campuran tersebut kering, pupuk digiling menggunakan mesin pengolahan.

Untuk sekali pengolahan 2 ton bahan baku, dapat dihasilkan 1,6 ton pupuk organik dengan harga jual Rp700 per kilogram. Harga pupuk ini lebih murah dari harga pupuk kimia yang mencapai Rp1300 per kilogram.

Kepala Sie (Kasi) Pengolahan Data, Laporan dan Perizinan Dinas Perindag Kabupaten Lampung Utara Ir. Beniyanto, yang juga anggota Pakem, mengemukakan Break Even Point (BEP) untuk pengadaan mesin pengolah sampah—dengan asumsi satu kali produksi setiap bulannya menghasilkan rata-rata 5 ton dan masa fermentasi dalam 1 bak penampungan 15 hari dan harga jual per kilogram Rp700—maka BEP akan terjadi pada 5 – 7 bulan maka modal (investasi) dapat kembali.

Dari hasil percobaan yang dilakukan didapatkan perbandingan hasil yang lebih baik daripada sebelumnya, yaitu untuk 1 hektare lahan memerlukan pupuk kimia sebanyak 5 ton. Sedangkan dengan pupuk organik cukup menggunakan 800 kilogram pupuk organik per hektare.

Ditinjau dari segi ekonomi, akan lebih menguntungkan petani karena harga pupuk organik lebih murah dan terjangkau. Selain itu, pupuk organik tidak merusak unsur-unsur hara yang ada di dalam tanah, bahkan dapat menjadikan tanah semakin subur.

Untuk sosialisai awal, Pakem Sumber Arum memberikan pupuk organik tersebut secara gratis kepada 80 KK petani di Desa Sumber Arum. Hal ini merupakan salah satu strategi Pakem Sumber Makmur dalam mempromosikan keunggulan penggunaan pupuk organik kepada petani.

”Harapan ke depannya, petani dapat mulai mengurangi ketergantungan mereka kepada pupuk kimia,” ujar IG. Suhadi, Koordinator BKM Sejahtera Desa Sumber Arum. Kini masyarakat Desa Sumber Arum tidak kesulitan lagi memperoleh pupuk. (Nurcholis, ST Askorkot P2KP Advanced Kabupaten Lampung Utara; Firstavina)

Untuk informasi lebih lanjut, silahkan hubungi:

BKM SEJAHTERAJl. Sutan Pujian RT. 04 Dusun Pancasila
Desa Sumber Arum – Kotabumi
Lampung Utara

Contact Person:IG Suhadi (Koordinator BKM), HP. 081379298760
Ir. Beniyanto (Dinas Perindag Lampung Utara), HP. 081369716708

Sumber : http://www.p2kp.org/bestpracticeprint.asp?mid=206&catid=8&&09/04/2010


Baca Selengkapnya ....

Ciptakan Organonitropos dari Kegalauan Petani

Posted by Pupuk Kompos Abdi Alam 0 komentar
(Unila) : Sekitar awal 2008, beberapa rekanan petani berkeluh-kesah kepada Sutopo Ghani Nugroho lantaran langkanya pupuk nonsubsidi di pasaran. Mereka mengira dengan gelar guru besarnya, Topo, demikian biasa dipanggil, bisa menjawab kegalauan petani.
Sementara petani sawit dan jagung yang bergelar profesor itu pun kalang kabut mencari pupuk untuk kebutuhan lahannya sendiri yang mencapai 300-an hektare. Saat itu pupuk bersubsidi di Lampung memang sedang langka-langkanya. Sementara harga pupuk nonsubsidi melambung tinggi akibat naiknya harga bahan bakar minyak (BBM).
Kondisi seperti ini tentu bikin gerah sebagian besar petani, tetapi sebagai guru besar di Fakultas Pertanian Universitas Lampung, Topo tentu tak habis akal mencari solusi. Ia pun mencoba menggunakan pupuk organik yang memiliki harga lebih murah dari pupuk kimia. Agar biaya yang ke luar lebih rendah,   Topo meracik pupuk organiknya sendiri dengan memanfaatkan kotoran sapi dari industri penggemukan sapi.
Di sisi lain, sebagai pakar biologi tanah, hati kecil Topo juga memendam kegelisahan. Pasalnya, ketergantungan petani pada pupuk berbahan kimia saat ini sangat tinggi. Sementara pupuk kimia jika digunakan terus-menerus justru menurunkan tingkat kesuburan tanah. Secara makro, subsidi pupuk nonorganik tentu akan menjadi beban anggaran bagi negara.
“Jika kita terus-menerus seperti ini, ketersediaan pupuk akan menjadi persoalan bagi para petani. Baik dari segi ketersediaan maupun dalam hal harga eceran tertinggi (HET). Kondisi tahun 2008 itu benar-benar bikin gerah para petani. Banyak petani gagal produksi akibat tanaman mereka tak lagi bisa diberi pupuk lantaran sudah lewat masa pemupukan,” ujarnya, Senin (25/3).
Dilema itu tentu menjadi pemikiran yang mendalam bagi Topo. Dia yang seorang profesor sekaligus petani merasa tertantang dengan persoalan ini. Menurutnya, di Indonesia banyak pakar dan guru besar bidang pertanian yang hebat, tapi seolah-olah tidak berdaya dan tidak bisa berbuat apa-apa untuk mengatasi persoalan pupuk. Padahal petani sangat bergantung pada pupuk.
Kegelisahan Topo lambat laun mulai mendapatkan secercah jalan terang. Dia mulai berpikir bagaimana caranya mengurangi ketergantungan petani pada pupuk kimia yang dapat merusak kesehatan tanah dalam jangka waktu panjang. Di sisi lain, dia juga berhasrat membuat pupuk organik dengan biaya rendah sehingga dapat dijual ke petani dengan harga murah.
“Dari sisi kebijakan subsidi. Jika kita bisa mengurangi setengah dari kebutuhan total pupuk bersubsidi dampaknya luar biasa sekali,” paparnya.
Bak gayung bersambut, pemikiran Topo seolah berjalan seiring dengan kebijakan pemerintah pusat. Melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) dibukalah hibah strategis unggulan nasional untuk ketahanan pangan pada sektor pertanian. Ini merupakan hibah penelitian tertinggi dalam level nasional.
Pemerintah menggulirkan bantuan dana penelitian mencapai Rp1 miliar untuk tiga tahun penelitian. Topo pun membuat proposal tentang produksi pupuk organik berkualitas bagus dengan harga murah. Setelah bersaing dengan ribuan proposal secara nasional, idenya yang terpilih. Pupuk ini bukan pupuk organik biasa karena memiliki nilai tambah unsur hara dengan memanfaatkan mikroba pengikat nitrogen (N) dan pelarut pospat (P).
Tentunya dengan bahan baku yang tersedia melimpah di level lokal sehingga biaya produksi bisa jauh lebih murah. Pupuk ini berlabel Organonitropos.
Organonitropos ternyata gampang. Sebab, bahan bakunya mudah diperoleh dan tersedia melimpah ruah. Pasalnya, pupuk organik ini terbuat dengan memanfaatkan limbah kotoran sapi yang cukup banyak di Lampung. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan Topo pada enam perusahaan besar di Lampung, volume limbah kotoran sapi per hari bisa mencapai 1.500 ton.
“Kami pun cukup beruntung karena memiliki gunung fosfat di daerah Lampung Tengah. Biasanya gunung fosfat adanya di Indonesia Timur, tapi Lampung ternyata punya. Bahkan dengan kandungan fosfat cukup tinggi hingga 24 persen. Sementara di Jawa Barat hanya di kisaran 18 persen,” tandasnya.
Penelitian pun dimulai. Topo tentu tidak bisa bekerja sendirian. Empat rekan sejawat turut andil dalam proyek penelitian ini. Mereka adalah Dimyati, Jamalam Lumban Raja, Hanung Lasmono, dan Sugeng Triono.
Tahun pertama ditujukan untuk menemukan formulasi yang tepat dalam meracik kotoran sapi, batuan fosfat, serta mikroorganisme yang digunakan agar menjadi pupuk organik dengan kadar yang diinginkan. Sementara tahun kedua fokus pada uji coba laboratorium dan lapangan. Tahun ketiga akan dilakukan skala pengujian secara luas.
“Jika tahap ketiga ini berhasil dilewati, kami baru bisa mengantongi izin untuk memroduksi secara massal. Dengan demikian, teknologi ciptaan kami dapat segera dipatenkan. Kami juga tengah menghitung aspek ekonomi produksi pupuk ini agar tetap menguntungkan namun dengan harga terjangkau bagi petani. Kami targetkan pupuk ini bisa dijual di bawah harga urea bersubsidi. Caranya, memangkas jalur distribusi dan bekerja sama dengan kelompok tani,” kata dia.
Menjawab kegalauan para petani soal pupuk-memupuk, menurutnya, merupakan tanggung jawab moral akademik yang ia miliki. Di sisi lain, dirinya adalah petani. Bertani baginya bukan sekadar bisnis, melainkan hobi. Maklum, sang ayah juga merupakan seorang guru yang getol bertani.
Selain itu, Topo menggeluti pertanian hingga skala bisnis. Pahit getir sudah ia rasakan, mulai dari kebun buah yang diterpa kemarau panjang 2007 hingga gagal pada bisnis penggemukan sapi pada 1998. Cerita sebagai petani, menurutnya, baru berbuah manis tatkala dirinya beralih pada usaha perkebunan sawit dan jagung.
Sebagai petani dia merasa cukup beruntung sempat menikmati harga sawit dan jagung pada level tertinggi beberapa tahun terakhir. Meskipun kini bisnis kelapa sawit kembang kempis, Topo masih bisa tersenyum. Paling tidak saat ini ia bisa mempersembahkan pupuk organik ciptaannya untuk menjawab kegalauan para petani.[] Mutiara

Sumber : http://www.unila.ac.id/ciptakan-organonitropos-dari-kegalauan-petani/
 
BIODATA
Nama Prof. Dr. Ir. Sutopo G. Nugroho, M.Sc.
Jenis Kelamin Laki-laki
Jabatan Fungsional Guru besar
Tempat/Tanggal Lahir Solo, 29 Oktober 1950
Alamat Rumah Jl. Tupai No. 115, Kedaton, Bandar Lampung, 35141
Alamat Kantor Jurusan Ilmu Tanah Universitas Lampung, Jl. Prof. Dr. Sumantri Brojoneoro No. 1 Bandar Lampung
S-1 IPB Bogor untuk Ilmu Tanah (1976) dengan gelar Insinyur Pertanian (Ir.)
S-2 Ghent University, Belgia, untuk Ilmu Tanah (1980) dengan gelar Master of Science (M.Sc.)
S-3 Nagoya University, Jepang, untuk Ilmu Tanah (1991) dengan gelar Doctor of Philoshopy (Ph.D)

Baca Selengkapnya ....

Petani Lampung Diimbau Gunakan Pupuk Organik

Posted by Pupuk Kompos Abdi Alam Jumat, 16 Mei 2014 0 komentar
BANDAR LAMPUNG, KOMPAS.com- Perhimpunan Petani dan Nelayan Sejahtera Indonesia (PPNSI) Lampung mengimbau para petani di Lampung mengutamakan penggunaan pupuk organik. Imbauan ini disampaikan Ketua Umum PPNSI Lampung Nursalim, Sabtu (20/10/2012), menyikapi hasil penelitian Tim Safari Klinik Tanaman Institut Pertanian Bogor yang mengungkapkan banyaknya alih fungsi lahan pertanian di Lampung akibat tanah yang mulai tidak subur.
"Kekeringan dan penggunaan pupuk kimia yang tidak terukur menjadi pemicunya (lahan tidak subur). Penggunaan pupuk kimia berlebihan tentu mempengaruhi struktur dan komposisi unsur hara tanah," ujar anggota DPRD Lampung dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera ini.
"Untuk itu, kami mengimbau seluruh petani jaringan kami serta masyarakat luas agar semakin sadar menggunakan pupuk organik demi hasil yang maksimal dan kepentingan jangka panjang," ujarnya.
Untuk mengerem laju alih fungsi lahan, Ketua Komisi II DPRD Lampung Ahmad Junaidi Auly mengatakan, DPRD Lampung telah menyusun Rancangan Perda Perlindungan Lahan Berkelanjutan.
Melalui regulasi tersebut diharapkan fungsi lahan dapat dikembalikan untuk peruntukan pertanian denga cara alamiah. "Ini merupakan blue print dan desain untuk bagaimana melindungi lahan dari alih fungsi/konversi lahan dan alih tanaman di Provinsi Lampung," ujarnya.

sumber : http://regional.kompas.com/read/2012/10/20/18210356/Petani.Lampung.Diimbau.Gunakan.Pupuk.Organik

Baca Selengkapnya ....

Petani Lada Lampung Barat Gunakan Pupuk Organik

Posted by Pupuk Kompos Abdi Alam 0 komentar
merica hitam
REPUBLIKA.CO.ID, LIWA--Petani lada di Kabupaten Lampung Barat mulai menggunakan pupuk organik untuk menyuburkan tanamannya. "Selain murah, pupuk organik terbukti dapat menyuburkan tanaman lada, selain itu, jenis pupuk organik dapat dibuat sendiri," kata Mat Hendar (42), petani lada, di Pekon (Desa) Sukabumi, Kecamatan Batubrak, Lampung Barat, sekitar 260 Km dari Bandarlampung, Sabtu.

Dia menjelaskan, pupuk organik aman bagi tanaman juga lahan perkebunan dan mampu meningkatkan hasil panen petani. "Selama saya menggunakan pupuk organik, hasil panen meningkat, sehingga saya tidak beralih pada pupuk lain, selain itu penggunaan pupuk organik, dapat menyuburkan tanah sehingga di sela-sela tanaman lada dapat ditanami jenis komoditas lain, dengan sistem tumpang sari," kata dia.

Kemudian lanjutnya, penggunaan pupuk organik mampu mengurangi pengeluaran petani. "Beberapa waktu lalu, saya kerap menggunakan pupuk tanaman yang mengandung bahan kimia, hasilnya tanah perkebunan tersebut keras, dan tidak mampu ditanami kooditas lain, dengan pelajaran itu, saya akhirnya beralih menggunakan pupuk organik, yang aman bagi tanaman juga lahan perkebunan," katanya.

Sebagian besar petani lada di Kabupaten Lampung Barat mulai menggunakan pupuk organik, karena selain murah, pupuk organik mampu meningkatkan hasil panen.

Minat petani lada menggunakan pupuk organik cukup besar, terlihat dengan semakin dimanfaatkannya limbah kotoran maupun limbah perkebunan, yang dijadikan sebagai bahan baku pupuk, petani mengakui menggunakan pupuk organik mampu menekan pengeluaran, bahkan nyaris tidak ada.

Lada dari Lampung Barat didistribusikan ke sejumlah daerah diantaranya, Bandarlampung dan sebagian besar di Pulau Jawa.

Data menunjukkan, luas lahan tanaman lada di Kabupaten Lampung Barat mencapai 11.796.7 hektare dengan hasil mencapai 3.723 ton per tahun.

Harga lada kering di Lampung Barat mencapai Rp21 ribu per kilogram, harga lada tergolong stabil sejak sepekan lalu, pasokan lada dari petani berjalan dengan lancar, pasalnya daerah itu baru melakukan panen raya lada.

Sebelumnya Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Lampung Barat, Khairul Anwar, mengatakan, lada menjadi komoditas unggulan Lampung Barat.

"Selain kopi, lada menjadi komoditas unggul di Lampung Barat, karena tanaman perkebunan ini, dibudidayakan sebagian besar wilayah di Lampung Barat," kata dia.

Dia mengatakan, perawatan yang baik, dapat menghasilkan panen lada berlimpah, dan mampu meningkatkan pendapatan petani.

"Upaya yang harus dilakukan petani, salah satunya melakukan perawatan dan pemupukan, sehingga tanaman dapat tumbuh dan berkembang dengan baik, dan menghasilkan buah lada berlimpah, selain itu penggunaan pupuk dapat di perhatikan, dan yang paling aman, petani dapat menggunakan pupuk yang ramah lingkungan, salah satunya pupuk organik," katanya.

Baca Selengkapnya ....

2010, AGP Hibah Pinjam Sapi Ke Peternak Lokal

Posted by Pupuk Kompos Abdi Alam Rabu, 16 April 2014 0 komentar
Penyeerahan_Sapi_Hibah_PinjamPengetatan impor sapi potong pada 2010, membuat perusahaan importir sapi potong berskala nasional PT Agro Giri Perkasa (AGP) mengalami kesulitan. Namun ditengah himpitan quota yang terus berkurang, AGP tetap berusaha memaksimalkan jumlah yang ada untuk mendukung program pemerintah.
Bentuk  dukungan tersebut juga disertai dengan wujud kepedulian AGP dengan tetap memperhatikan peternak lokal. Bekerjasama dengan mitra usahanya PT Juang Jaya Abdi Alam (JJAA), AGP memberikan pelatihan kepada tiga kelompok peternak di desa Sidowaluyo, Siring Jaha dan Budidaya yang berada di wilayah kecamatan Sidomulyo, Kabupaten Lampung Selatan. Beragam materi pelatihan dari tenaga ahli perusahaan dan akademisi peternakan Unila dan IPB ini meliputi pengenalan sapi jenis Brahman Cross, tingkah laku sapi, konsentrat dan pakan ternak, sistem perkandangan hingga manajemen limbah dan praktek lapangan di Pusat Pemberdayaan Peternak Pembibit Sapi Potong (P4SP) PT JJAA.
Banteng_copyTidak hanya sekedar pelatihan, Presiden Direktur PT Agro Giri Perkasa, Dicky Adiwoso mengatakan, AGP juga merealisasikan program lanjutan dari pelatihan tersebut yaitu hibah pinjam sapi bunting untuk peternak kecamatan Sidomulyo yang telah mengikuti pelatihan.     “Kami telah mendistribusikan 38 ekor sapi betina bunting senilai hampir setengah milyar.” tutur Dicky Adiwoso.
Para peternak yang mengikuti pelatihan tersebut merasakan banyak manfaat, selain meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan, mereka juga berkesempatan untuk mendapatkan peluang usaha dan pendapatan yang baru.  “ Kemitraan ini merupakan bentuk komitmen perusahaan untuk meningkatkan kesejahteraan petani melalui penggiatan bibit sapi lokal dan dukungan terhadap pemerintah dalam program swasembada daging sapi 2014.” terang Dicky Adiwoso di ruang kerjanya.
Pelatihan_TeoriSecara teknis, AGP memberikan bantuan pinjaman sapi betina bunting jenis Brahman Cross Australia berusia 5-7 bulan sebanyak 38 ekor untuk tiga kelompok peternak. Secara rinci, kelompok peternak Desa Budidaya menerima 8 ekor, kelompok peternak Desa Siring Jaha 10 ekor sapi, dan kelompok peternak Desa Sidowaluyo 20 ekor sapi. Sapi betina bunting tersebut akan dipinjamkan kepada para peternak sampai 3 kali kelahiran, hingga akhirnya dikembalikan lagi ke perusahaan dan anak sapi menjadi milik peternak. Selama proses pemeliharaan, peternak diberikan pendampingan intensif selama satu bulan dan kunjungan rutin secara berkala untuk memeriksa kondisi kesehatan sapi.
Dalam perkembangannya hingga akhir bulan november 2010, dari 10 ekor sapi kelompok peternak Desa Siring Jaha, 3 ekor diantaranya telah melahirkan. Sementara kelompok peternak Desa Sidowaluyo, 11 ekor sapi diantaranya telah melahirkan dari total 20 ekor. Sedangkan untuk kelompok peternak Desa Budidaya belum satu ekor sapi pun yang melahirkan.
Praktek_Lapangan
Ditegaskan Dicky Adiwoso, di tahun 2011 ini, AGP berharap mampu menunjang pertumbuhan populasi sapi nasional dengan program-program kemitraan dengan masyarakat dan pemerintah. Lebih utamanya, AGP menginginkan agar pemberdayaan masyarakat peternak sapi dalam skala kecil lebih bisa mandiri dalam mengembangkan usaha budidaya peternakan.




Telah diterbitkan pada hari Jumat, 31 Desember 2010 di sejumlah koran harian di Lampung
(Lampung Post, Radar Lampung dan Koran Lampung)

Baca Selengkapnya ....