MEMBUAT PUPUK KOMPOS DARI KOTORAN SAPI

Posted by Pupuk Kompos Abdi Alam Kamis, 21 Agustus 2014 0 komentar
 

Pupuk kompos merupakan dekomposisi bahan – bahan organik atau proses perombakan senyawa yang komplek menjadi senyawa yang sederhana dengan bantuan mikroorganisme. Bahan dasar pembuatan kompos ini adalah kotoran sapi dan bahan seperti serbuk gergaji atau sekam, jerami padi dll, yang didekomposisi dengan bahan pemacu mikroorganisme dalam tanah (misalnya stardec atau bahan sejenis) ditambah dengan bahan-bahan untuk memperkaya kandungan kompos, selain ditambah serbuk gergaji, atau sekam, jerami padi dapat juga ditambahkan abu dan kalsit/kapur. Kotoran sapi dipilih karena selain tersedia banyak di petani/peternak juga memiliki kandungan nitrogen dan potassium, di samping itu kotoran sapi merupakan kotoran ternak yang baik untuk kompos.

Pemanfaatan limbah peternakan (kotoran ternak) merupakan salah satu alternatif yang sangat tepat untuk mengatasi kelangkaan dan naiknya harga pupuk. Pemanfaatan kotoran ternak sebagai pupuk sudah dilakukan petani secara optimal di daerah-daerah sentra produk sayuran. Sayangnya masih ada kotoran ternak tertumpuk di sekitar kandang dan belum banyak dimanfaatkan sebagai sumber pupuk. Keluhan petani saat terjadi kelangkaan atau mahalnya harga pupuk non organik (kimia) dapat diatasi dengan menggiatkan kembali pembuatan dan pemanfaatan pupuk kompos.

Proses
Prinsip yang digunakan dalam pembuatan kompos adalah proses pengubahan limbah organik menjadi pupuk organik melalui aktivitas biologis pada kondisi yang terkontrol. 
Bahan yang diperlukan adalah: 
  1. kotoran sapi : 80 – 83%, 
  2. serbuk gergaji (bisa sekam, jerami padi dll) : 
  3. 5%, bahan pemacu mikroorganisame :
  4. 0.25%, abu sekam : 
  5. 10% dan 
  6. kalsit/kapur : 2%, 
  7. dan juga boleh menggunakan bahan-bahan yang lain asalkan kotoran sapi minimal 40%, serta kotoran ayam 25 %
Tempat pembuatan adalah sebidang tempat beralas tanah dan dibagi menjadi 4 bagian (lokasi 1, 2, 3, 4) sesuai dengan ukuran yang dibutuhkan dan tempat tersebut ternaungi agar pupuk tidak terkena sinar matahari dan air hujan secara langsung. Prosesing pembuatannya adalah pertama kotoran sapi (fases dan urine) diambil dari kandang dan ditiriskan selama satu minggu untuk mendapatkan kadar air mencapai ¬+ 60%, kemudian kotoran sapi yang sudah ditiriskan tersebut dipindahkan ke lokasi 1 tempat pembuatan kompos dan diberi serbuk gergaji atau bahan yang sejenis seperti sekam, jerami padi dll, serta abu, kalsit/kapur dan stardec sesuai dosis, selanjutnya seluruh bahan campuran diaduk secara merata. 
Setelah satu minggu di lokasi 1, tumpukan dipindahkan ke lokasi 2 dengan cara diaduk/dibalik secara merata untuk menambah suplai oksigen dan meningkatkan homogenitas bahan. Pada tahap ini diharapkan terjadi peningkatan suhu hingga mencapai 70 derajat celcius untuk mematikan pertumbuhan biji gulma sehingga kompos yang dihasilkan dapat bebas dari biji gulma.


http://www.sinartani.com/mimbarpenyuluh/membuat-pupuk-kompos-kotoran-sapi-1225076328.htm

Baca Selengkapnya ....

Kotoran Sapi Pun Menjadi Duit

Posted by Pupuk Kompos Abdi Alam 0 komentar
Fajar Marta

KOMPAS.com — Selama bertahun-tahun, Ngatijan (56) merasa tidak nyaman dengan tumpukan kotoran sapi yang tidak terpakai di kampungnya di Dusun Margaraya, Desa Lurung, Kecamatan Natar, Lampung Selatan, Provinsi Lampung.
Onggokan kotoran sapi di sana kian hari kian menumpuk mengingat hampir setiap warga di kampung tersebut memiliki sapi untuk membajak sawah.
Pada tahun 2004, lelaki kelahiran Daerah Istimewa Yogyakarta ini pun mencoba memanfaatkan kotoran sapi yang terserak di kampungnya untuk membuat pupuk organik.
Awalnya, usaha Ngatijan jatuh bangun. Maklum, tidak mudah mendapatkan pasar pupuk organik di tengah masih populernya pupuk kimia dan kuatnya permainan mafia pupuk.
Mula-mula ia hanya bisa memproduksi puluhan ton per bulan. Namun, dengan keuletan dan kerja keras, saat ini Ngatijan bisa memproduksi pupuk organik hingga 500 ton per bulan.
Tenaga kerjanya yang awalnya hanya 5 orang kini berkembang menjadi 20 orang. Dengan harga pupuk organik sebesar Rp 500 per kilogram, omzet Ngatijan bisa mencapai Rp 250 juta per bulan.
Kejelian dan kerja kerasnya memproduksi pupuk organik tidak hanya menguntungkan dirinya sendiri. Sekitar 500 petani yang tinggal di kampungnya dan kampung sekitarnya kini juga bisa menangguk tambahan penghasilan dari kotoran sapi.
Ngatijan tidak mengambil kotoran sapi itu cuma-cuma, tetapi menghargainya dengan uang. Kotoran sapi yang sebelumnya dianggap masyarakat kurang bermanfaat ternyata bisa menjadi duit di tangan Ngatijan.
Meskipun tidak besar, tambahan penghasilan tersebut cukup untuk menambah modal usaha tani dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat kampung.
Usaha pupuk organik Ngatijan melambung ketika pemerintah mengeluarkan program Bantuan Pupuk Pemerintah (BPP) untuk petani miskin tahun 2009. Pabrik dan distributor pupuk besar yang diminta menyalurkan BPP, seperti PT Pertani dan PT Sang Hyang Seri, pun bekerja sama dengan produsen pupuk-pupuk organik skala menengah dan kecil.
Suami dari Sudarti ini pun menangkap peluang tersebut dengan ikut serta menjadi pemasok pupuk organik dari kotoran sapi.
Proses produksi pupuk organik dimulai dengan mengumpulkan bahan baku berupa kotoran sapi dari para penduduk. Untuk meningkatkan motivasi dan semangat petani mengumpulkan dan mengeringkan kotoran sapi, Ngatijan biasanya membayar di muka atau mengijon kotoran sapi tersebut.
Harga kotoran sapi yang telah dikeringkan selama seminggu sekitar Rp 40 per kilogram. Jadi, dengan dua sapi, satu keluarga petani biasanya bisa memperoleh upah sekitar Rp 50.000 per bulan.
Selanjutnya, kotoran sapi yang telah kering diangkut dari rumah-rumah penduduk ke tempat produksi, yang terletak di areal persawahan, tak jauh dari rumah Ngatijan.
Proses pupuk organik
Untuk membuat pupuk organik, kotoran sapi tersebut dicampur bahan lain dengan komposisi: kotoran sapi sebesar 80-83 persen, serbuk gergaji 5 persen, bahan pemacu mikroorganisme 0,25 persen, abu sekam 10 persen, dan kapur 2 persen.
Campuran ini kemudian dibiarkan selama satu minggu sembari dibolak-balik untuk menjaga kadar oksigen. Setelah selama satu minggu, pupuk organik biasanya telah matang dengan warna pupuk coklat kehitaman bertekstur remah dan tidak berbau.
Langkah berikutnya, pupuk diayak atau disaring untuk mendapatkan bentuk yang seragam serta memisahkan dari bahan yang tidak diharapkan, seperti batu, potongan kayu, atau tali rafia, sehingga pupuk organik yang dihasilkan benar-benar berkualitas.
Pupuk organik selanjutnya dimasukkan ke dalam karung kemasan 50 kilogram yang telah disediakan dan diberi label oleh distributor sebagai pupuk bantuan dari pemerintah.
Pupuk organik yang telah dikemas tersebut kemudian diambil oleh distributor pupuk untuk disalurkan secara gratis kepada para petani sebagai pengganti pupuk kimia di kawasan Lampung dan sekitarnya.
Pria yang hanya lulusan sekolah dasar ini mengatakan, keberhasilan usahanya tidak terlepas dari bantuan Swamitra, lembaga keuangan mikro yang dibentuk koperasi dengan bantuan dana dan manajemen dari Bukopin.
Dengan pinjaman dana dari Swamitra, Ngatijan bisa membeli bahan baku kotoran sapi dari petani dalam jumlah besar dan membangun tempat produksi serta membeli mesin penggiling. Dengan bantuan Swamitra pula, Ngatijan tidak sampai terjerat tengkulak yang biasanya mematok bunga selangit.
Ke depan, bapak enam anak ini berencana meningkatkan kapasitas produksinya dengan menambah mesin penggiling dan memperluas areal produksi serta menambah tenaga kerja. Harapannya, ia bisa memproduksi sekitar 1.000 hingga 2.000 ton setiap bulan agar bisa memenuhi permintaan yang selama ini tidak bisa dipenuhinya.
Maklum, Ngatijan juga ingin lebih banyak menjual pupuk organik ke pasar komersial. Menurut dia, pupuk organik yang dijual secara komersial harganya bisa lebih tinggi dibandingkan dengan dijual sebagai pupuk bantuan pemerintah.
Jika produksinya meningkat, Ngatijan tentu juga bisa lebih banyak menggandeng petani di kampung-kampung sekitarnya untuk dibeli kotoran sapinya sehingga lebih banyak lagi kesejahteraan petani yang terangkat.



Baca Selengkapnya ....

PAKET Turut Atasi Kelangkaan Pupuk

Posted by Pupuk Kompos Abdi Alam Jumat, 20 Juni 2014 0 komentar
Lampung Utara, 9 April 2010
Berawal dari tingginya ketergantungan kepada pupuk kimia bersubsidi yang dialami sebagian petani desa Sumber Arum, Kecamatan Kotabumi, Lampung Utara, muncul inisiatif untuk mengembangkan pupuk alternatif dengan memanfaatkan sampah rumah tangga dan kotoran ternak. Berbekal hasil pelatihan kelompok tani dan rembug para tokoh masyarakat, tercapailah kesepakatan membuat pupuk kompos sederhana. Namun, usaha tersebut mengalami kendala akibat minimnya peralatan yang terbatas dan konvensional.
Pada tahun 2008, Kabupaten Lampung Utara mendapatkan Program Penanggulangan Kemiskinan Terpadu (PAKET) sebagai kelanjutan dari program PNPM Mandiri Perkotaan atau P2KP, yang masuk sejak tahun 2006. Gayung pun bersambut. Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Perindag) Kabupaten Lampung Utara memberi peluang kerja sama, dalam upaya ekspansipasi program pupuk organik. Maka terbentuklah panitia kemitraan (Pakem) Sumber Makmur hasil kolaborasi antara BKM Sejahtera dengan Dinas Perindag Kabupaten Lampung Utara.

Dari dana PAKET sebesar Rp75 juta serta swadaya masyarakat sebesar Rp26.765.000, dibangun satu unit pabrik pengolahan pupuk organik berukuran 6 meter x 7 meter, dilengkapi peralatan pendukung, seperti hand traktor dan timbangan. Sedangkan Dinas Perindag memberikan bantuan berupa satu unit mesin pengolahan pupuk dan pelatihan pembuatan pupuk organik.

Pada Oktober 2008 digelar pelatihan pengolahan pupuk organik yang langsung ditangani oleh Dinas Perindag Kabupaten Lampung Utara. Hasil pelatihan ini kemudian dijadikan motivasi oleh masyarakat Desa Sumber Arum untuk membuat gudang pengolahan pupuk organik secara gotong royong.

Setelah pembangunan gudang pengolahan pupuk selesai, Pakem Sumber Makmur mulai mengolah pupuk organik secara mandiri. Bahan baku pupuk didapatkan dari sumber daya alam yang ada di Desa Sumber Arum, seperti kotoran hewan dan serbuk gergaji. Untuk kotoran sapi dibeli seharga Rp200 per kilogram dan kotoran ayam seharga Rp. 600 per kilogram.

Menurut Ketua Kelompok Tani Ir. Samsul Bahri, selaku instruktur pelatihan pupuk, cara pengolahan pupuk adalah sebagai berikut.

Pertama, semua bahan dicampur menjadi satu dengan perbandingan 70% kotoran sapi, 20% kotoran ayam dan 10% serbuk gergaji.

Kedua, bahan campuran tersebut difermentasi selama sekitar 2 minggu bersama dengan campuran dolomyte, EM4, gula pasir dan ragi.

Ketiga, setelah campuran tersebut kering, pupuk digiling menggunakan mesin pengolahan.

Untuk sekali pengolahan 2 ton bahan baku, dapat dihasilkan 1,6 ton pupuk organik dengan harga jual Rp700 per kilogram. Harga pupuk ini lebih murah dari harga pupuk kimia yang mencapai Rp1300 per kilogram.

Kepala Sie (Kasi) Pengolahan Data, Laporan dan Perizinan Dinas Perindag Kabupaten Lampung Utara Ir. Beniyanto, yang juga anggota Pakem, mengemukakan Break Even Point (BEP) untuk pengadaan mesin pengolah sampah—dengan asumsi satu kali produksi setiap bulannya menghasilkan rata-rata 5 ton dan masa fermentasi dalam 1 bak penampungan 15 hari dan harga jual per kilogram Rp700—maka BEP akan terjadi pada 5 – 7 bulan maka modal (investasi) dapat kembali.

Dari hasil percobaan yang dilakukan didapatkan perbandingan hasil yang lebih baik daripada sebelumnya, yaitu untuk 1 hektare lahan memerlukan pupuk kimia sebanyak 5 ton. Sedangkan dengan pupuk organik cukup menggunakan 800 kilogram pupuk organik per hektare.

Ditinjau dari segi ekonomi, akan lebih menguntungkan petani karena harga pupuk organik lebih murah dan terjangkau. Selain itu, pupuk organik tidak merusak unsur-unsur hara yang ada di dalam tanah, bahkan dapat menjadikan tanah semakin subur.

Untuk sosialisai awal, Pakem Sumber Arum memberikan pupuk organik tersebut secara gratis kepada 80 KK petani di Desa Sumber Arum. Hal ini merupakan salah satu strategi Pakem Sumber Makmur dalam mempromosikan keunggulan penggunaan pupuk organik kepada petani.

”Harapan ke depannya, petani dapat mulai mengurangi ketergantungan mereka kepada pupuk kimia,” ujar IG. Suhadi, Koordinator BKM Sejahtera Desa Sumber Arum. Kini masyarakat Desa Sumber Arum tidak kesulitan lagi memperoleh pupuk. (Nurcholis, ST Askorkot P2KP Advanced Kabupaten Lampung Utara; Firstavina)

Untuk informasi lebih lanjut, silahkan hubungi:

BKM SEJAHTERAJl. Sutan Pujian RT. 04 Dusun Pancasila
Desa Sumber Arum – Kotabumi
Lampung Utara

Contact Person:IG Suhadi (Koordinator BKM), HP. 081379298760
Ir. Beniyanto (Dinas Perindag Lampung Utara), HP. 081369716708

Sumber : http://www.p2kp.org/bestpracticeprint.asp?mid=206&catid=8&&09/04/2010


Baca Selengkapnya ....

Ciptakan Organonitropos dari Kegalauan Petani

Posted by Pupuk Kompos Abdi Alam 0 komentar
(Unila) : Sekitar awal 2008, beberapa rekanan petani berkeluh-kesah kepada Sutopo Ghani Nugroho lantaran langkanya pupuk nonsubsidi di pasaran. Mereka mengira dengan gelar guru besarnya, Topo, demikian biasa dipanggil, bisa menjawab kegalauan petani.
Sementara petani sawit dan jagung yang bergelar profesor itu pun kalang kabut mencari pupuk untuk kebutuhan lahannya sendiri yang mencapai 300-an hektare. Saat itu pupuk bersubsidi di Lampung memang sedang langka-langkanya. Sementara harga pupuk nonsubsidi melambung tinggi akibat naiknya harga bahan bakar minyak (BBM).
Kondisi seperti ini tentu bikin gerah sebagian besar petani, tetapi sebagai guru besar di Fakultas Pertanian Universitas Lampung, Topo tentu tak habis akal mencari solusi. Ia pun mencoba menggunakan pupuk organik yang memiliki harga lebih murah dari pupuk kimia. Agar biaya yang ke luar lebih rendah,   Topo meracik pupuk organiknya sendiri dengan memanfaatkan kotoran sapi dari industri penggemukan sapi.
Di sisi lain, sebagai pakar biologi tanah, hati kecil Topo juga memendam kegelisahan. Pasalnya, ketergantungan petani pada pupuk berbahan kimia saat ini sangat tinggi. Sementara pupuk kimia jika digunakan terus-menerus justru menurunkan tingkat kesuburan tanah. Secara makro, subsidi pupuk nonorganik tentu akan menjadi beban anggaran bagi negara.
“Jika kita terus-menerus seperti ini, ketersediaan pupuk akan menjadi persoalan bagi para petani. Baik dari segi ketersediaan maupun dalam hal harga eceran tertinggi (HET). Kondisi tahun 2008 itu benar-benar bikin gerah para petani. Banyak petani gagal produksi akibat tanaman mereka tak lagi bisa diberi pupuk lantaran sudah lewat masa pemupukan,” ujarnya, Senin (25/3).
Dilema itu tentu menjadi pemikiran yang mendalam bagi Topo. Dia yang seorang profesor sekaligus petani merasa tertantang dengan persoalan ini. Menurutnya, di Indonesia banyak pakar dan guru besar bidang pertanian yang hebat, tapi seolah-olah tidak berdaya dan tidak bisa berbuat apa-apa untuk mengatasi persoalan pupuk. Padahal petani sangat bergantung pada pupuk.
Kegelisahan Topo lambat laun mulai mendapatkan secercah jalan terang. Dia mulai berpikir bagaimana caranya mengurangi ketergantungan petani pada pupuk kimia yang dapat merusak kesehatan tanah dalam jangka waktu panjang. Di sisi lain, dia juga berhasrat membuat pupuk organik dengan biaya rendah sehingga dapat dijual ke petani dengan harga murah.
“Dari sisi kebijakan subsidi. Jika kita bisa mengurangi setengah dari kebutuhan total pupuk bersubsidi dampaknya luar biasa sekali,” paparnya.
Bak gayung bersambut, pemikiran Topo seolah berjalan seiring dengan kebijakan pemerintah pusat. Melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) dibukalah hibah strategis unggulan nasional untuk ketahanan pangan pada sektor pertanian. Ini merupakan hibah penelitian tertinggi dalam level nasional.
Pemerintah menggulirkan bantuan dana penelitian mencapai Rp1 miliar untuk tiga tahun penelitian. Topo pun membuat proposal tentang produksi pupuk organik berkualitas bagus dengan harga murah. Setelah bersaing dengan ribuan proposal secara nasional, idenya yang terpilih. Pupuk ini bukan pupuk organik biasa karena memiliki nilai tambah unsur hara dengan memanfaatkan mikroba pengikat nitrogen (N) dan pelarut pospat (P).
Tentunya dengan bahan baku yang tersedia melimpah di level lokal sehingga biaya produksi bisa jauh lebih murah. Pupuk ini berlabel Organonitropos.
Organonitropos ternyata gampang. Sebab, bahan bakunya mudah diperoleh dan tersedia melimpah ruah. Pasalnya, pupuk organik ini terbuat dengan memanfaatkan limbah kotoran sapi yang cukup banyak di Lampung. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan Topo pada enam perusahaan besar di Lampung, volume limbah kotoran sapi per hari bisa mencapai 1.500 ton.
“Kami pun cukup beruntung karena memiliki gunung fosfat di daerah Lampung Tengah. Biasanya gunung fosfat adanya di Indonesia Timur, tapi Lampung ternyata punya. Bahkan dengan kandungan fosfat cukup tinggi hingga 24 persen. Sementara di Jawa Barat hanya di kisaran 18 persen,” tandasnya.
Penelitian pun dimulai. Topo tentu tidak bisa bekerja sendirian. Empat rekan sejawat turut andil dalam proyek penelitian ini. Mereka adalah Dimyati, Jamalam Lumban Raja, Hanung Lasmono, dan Sugeng Triono.
Tahun pertama ditujukan untuk menemukan formulasi yang tepat dalam meracik kotoran sapi, batuan fosfat, serta mikroorganisme yang digunakan agar menjadi pupuk organik dengan kadar yang diinginkan. Sementara tahun kedua fokus pada uji coba laboratorium dan lapangan. Tahun ketiga akan dilakukan skala pengujian secara luas.
“Jika tahap ketiga ini berhasil dilewati, kami baru bisa mengantongi izin untuk memroduksi secara massal. Dengan demikian, teknologi ciptaan kami dapat segera dipatenkan. Kami juga tengah menghitung aspek ekonomi produksi pupuk ini agar tetap menguntungkan namun dengan harga terjangkau bagi petani. Kami targetkan pupuk ini bisa dijual di bawah harga urea bersubsidi. Caranya, memangkas jalur distribusi dan bekerja sama dengan kelompok tani,” kata dia.
Menjawab kegalauan para petani soal pupuk-memupuk, menurutnya, merupakan tanggung jawab moral akademik yang ia miliki. Di sisi lain, dirinya adalah petani. Bertani baginya bukan sekadar bisnis, melainkan hobi. Maklum, sang ayah juga merupakan seorang guru yang getol bertani.
Selain itu, Topo menggeluti pertanian hingga skala bisnis. Pahit getir sudah ia rasakan, mulai dari kebun buah yang diterpa kemarau panjang 2007 hingga gagal pada bisnis penggemukan sapi pada 1998. Cerita sebagai petani, menurutnya, baru berbuah manis tatkala dirinya beralih pada usaha perkebunan sawit dan jagung.
Sebagai petani dia merasa cukup beruntung sempat menikmati harga sawit dan jagung pada level tertinggi beberapa tahun terakhir. Meskipun kini bisnis kelapa sawit kembang kempis, Topo masih bisa tersenyum. Paling tidak saat ini ia bisa mempersembahkan pupuk organik ciptaannya untuk menjawab kegalauan para petani.[] Mutiara

Sumber : http://www.unila.ac.id/ciptakan-organonitropos-dari-kegalauan-petani/
 
BIODATA
Nama Prof. Dr. Ir. Sutopo G. Nugroho, M.Sc.
Jenis Kelamin Laki-laki
Jabatan Fungsional Guru besar
Tempat/Tanggal Lahir Solo, 29 Oktober 1950
Alamat Rumah Jl. Tupai No. 115, Kedaton, Bandar Lampung, 35141
Alamat Kantor Jurusan Ilmu Tanah Universitas Lampung, Jl. Prof. Dr. Sumantri Brojoneoro No. 1 Bandar Lampung
S-1 IPB Bogor untuk Ilmu Tanah (1976) dengan gelar Insinyur Pertanian (Ir.)
S-2 Ghent University, Belgia, untuk Ilmu Tanah (1980) dengan gelar Master of Science (M.Sc.)
S-3 Nagoya University, Jepang, untuk Ilmu Tanah (1991) dengan gelar Doctor of Philoshopy (Ph.D)

Baca Selengkapnya ....

Petani Lampung Diimbau Gunakan Pupuk Organik

Posted by Pupuk Kompos Abdi Alam Jumat, 16 Mei 2014 0 komentar
BANDAR LAMPUNG, KOMPAS.com- Perhimpunan Petani dan Nelayan Sejahtera Indonesia (PPNSI) Lampung mengimbau para petani di Lampung mengutamakan penggunaan pupuk organik. Imbauan ini disampaikan Ketua Umum PPNSI Lampung Nursalim, Sabtu (20/10/2012), menyikapi hasil penelitian Tim Safari Klinik Tanaman Institut Pertanian Bogor yang mengungkapkan banyaknya alih fungsi lahan pertanian di Lampung akibat tanah yang mulai tidak subur.
"Kekeringan dan penggunaan pupuk kimia yang tidak terukur menjadi pemicunya (lahan tidak subur). Penggunaan pupuk kimia berlebihan tentu mempengaruhi struktur dan komposisi unsur hara tanah," ujar anggota DPRD Lampung dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera ini.
"Untuk itu, kami mengimbau seluruh petani jaringan kami serta masyarakat luas agar semakin sadar menggunakan pupuk organik demi hasil yang maksimal dan kepentingan jangka panjang," ujarnya.
Untuk mengerem laju alih fungsi lahan, Ketua Komisi II DPRD Lampung Ahmad Junaidi Auly mengatakan, DPRD Lampung telah menyusun Rancangan Perda Perlindungan Lahan Berkelanjutan.
Melalui regulasi tersebut diharapkan fungsi lahan dapat dikembalikan untuk peruntukan pertanian denga cara alamiah. "Ini merupakan blue print dan desain untuk bagaimana melindungi lahan dari alih fungsi/konversi lahan dan alih tanaman di Provinsi Lampung," ujarnya.

sumber : http://regional.kompas.com/read/2012/10/20/18210356/Petani.Lampung.Diimbau.Gunakan.Pupuk.Organik

Baca Selengkapnya ....